wikipedia

Hasil penelusuran

Senin, 13 Juni 2016

Morfologi


BAB I
MORFOLOGI

Dalam tata bahasa mencakup dua cabang ilmu bahasa yakni morfologi dan sintaksis. Morfologi adalah tata bahasa yang membahas seluk beluk morfem dan kata, sedangkan sintaksis adalah tata bahasa yang membahas seluk beluk kalimat. Sebagai satuan gramatikal, kedudukan morfen dan kata sebagi berikut :
1.    Wacana                         5.   Frasa
2.    Paragraf                        6.   Kata
3.    Kalimat                         7.   Morfem
4.    Klausa                           8.   Fonem

            Satuan-satuan gramatikal ini merupakan tataran hierarki gramatikal. Dalam tataran gramatikal morfem adalah satuan kecil yang bermakna atau satuan kecil dari kata. Kata merupakan satuan terbesar dalam morfologi. Dan merupakan satuan terkecil dalam sintaksis. Contoh : dalam morfologi kata berbaju dapat dibagi menjadi dua unsur yaitu ber- dan baju. Dalam kalimat ini ber merupakan satuan terkecil yang tidak dapat dibagi menjadi lebih kecil. Dan begitu juga dengan kata baju tidak dapat dibagi menjadi lebih kecil. Dalam morfologi kata ber- dan baju disebut sebagai morfem. ber- disebut sebagai morfem bebas sedangkan bentuk baju disebut morfem terikat. Dari data diatas ternyata morfem dapat berupa kata (baju) dan dapat berupa imbuhan (ber-). Dilihat dari segi kategorinya, morfem terikat ber- tidak berkategori, sedangkan morfem bebas (kata) baju berkategori yakni nomina; sedangkan kata berbaju berkategori verba. Dari segi maknanya, morfem ber- bermakna gramatikal dan kata baju bermakna leksikal. Makna leksikal adalah makna kata yang masih berdiri sendiri., tidak hubungan dengan satuan yang lain, sedangkan makna gramatikal adalah makna baru yang muncul akibat proses gramatikal, baik proses morfologis maupun proses sintaksis. Makna gramatikal verbal baju adalah memakai baju. Dari uraian diatas satuan morfem dan kata dapat dituliskan secara singkat sebagai berikut:



No
Morfem
Kata
1.

Satuan terkecil dalam morfologi, bukan satuan terkecil dari sintaksis;
Satuan terkecil dalam sintaksis tetapi satuan terbesar dalam morfologi;
2.
Tidak berkategori
Berkategori (dapat berubah akibat proses morfologis);
3.
Bermakna gramatikal
Bermakna leksikal (dapat bermakna gramatikal akibat proses morfologis yaitu proses sintaksis);
4.
Bentuk terikat
Bentuk bebas
5.
Unsur pembentuk kata baru
Bentuk dasar yang berbentuk

            Selain bentuk terikat seperti ber-, ter-dan ke- dalam bahasa indonesia juga terdapat bentuk terikat yang mirip dengan morfem imbuhan seperti : 1. pita ini kugunting; 2. ini guntingku. Bentuk terikat ku- dan juga ku- yang melekat pada kata gunting disebut klitika. Klitika adalah bentuk terikat yang (1) tidak pernah berdiri sendiri karena terikat pada bentuk bebas (gunting), (2) jelas katagorinya (pronomina) dan (3) mempunyai padanan dengan bentuk yang utuh (aku). Klitika ada dua macam yaitu ploklitika dan enklitika. Ploklitika adalah klitika yang terikat dengan kata yang mengikutinya sedangkan enklitika adalah klitika yang terikat dengan kata yang mendahuluinya. Berikut perbedaan ploklitika dan enklitika
No
Proklitika ku-
Enklitika ku-
1.
dapat dipakai untuk membentuk verba pasif;
Dipakai dalam konstruksi pemilikan;
2.
Dapat diganti dengan bentuk utuhnya; - - - aku gunting;
Tidak lazim digunakan bentuk utuhnya : *gunting aku;
3.
Dapat mengubah kategori kata yang yang dilekatinya menjadi verba pasif
Tidak dapa mengubah kategori kata yang dilekatinya, tetap berkategori nomina;

            Sejalan dengan  ploklitika ku-, ploklitika kau- juga dapat dipakai untuk membentuk verba pasif dan dapat diganti dengan bentuk utuhnya. Enklitika –mu dipakai dalam konstruksi pemilikan, tidak dapat mengubah kategori kata yang dilekatinya, dapat diganti dengan betuk utuhnya. Seperti contoh berikut.
-       Pita ininjangan engkau gunting
-       Ini bukan gunting kamu
Catatan :  dalam nada (ragam) puitis klitika ku- dan kau- dipakai sebagai bentuk bebas.
            Bentuk klitika selanjutnya adalah enklitika –nya. Enklitika –nya dipakai untuk menyatakan milik dan dapat diganti dengan pronomina dia, bukan ia. Enklitika –nya  dapat berfungsi sebagai objek,pelengkap, dan pelengkap pelaku.Contoh : 1. Bu Rini membelikannya baju baru. 2. Bu Rini membeli baju baru untuknya. Enklitikanya dapat mengubah kategori verba menjadi nomina (nomina deverbal). Contoh : 1. Berangkatnya kapan ?. 2. Terbunuhnya teroris itu membuat penduduk desa ini tenang.
            Dalam bahasa indonesia terdapat bentuk ploklitika yang berkategori numeralia, seperti contoh berikut :
1.    Ekaprasetia             (‘satu)
2.    Dwiwarna               (‘dua)
3.    Tridarma                 (‘tiga’)
Bentuk enkltika –kah, -lah, -tah, dan –pun disebut partikel penegas. Partikel penegas itu tidak mengubah kategori kata yanng dilekatinya jadi, tidak dapat membentuk kata baru. Imbuhan, klitika, proleksem, dan partikel penegas, semuanya tergolong bentuk terikat secara morfologis. Proses morfologis dapat menyebabkan perubahan bentuk imbuhan yang bergabung dengan bentuk dasar dan juga perubahan fonem awal atau akhir bentuk dasar yang digabungi imbuhan itu. Hal itu dibicarakan dalam morfonemik.

2.1    Morfonemik
            Morfenemik adalah perubahan fonem yang terjadi akibat proses morfologis. Awalan me-, ber-, dan ter- dapat mengalami perubahan bentuk sebagai berikut.
Awalan me- tidak berubah bentuknya jika bergabung dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /l/, /r/, /w/, /y/, /m/, /n/, /Å‹/ (ng), dan /ñ/ (ny). Awalan me- berubah bentuknya menjadi mem- jika bergabung dengan bentuk dasar yang berawalan dengan konsonan /b/, /f/, /p// dan /v/. Pada proses ini terjadi dua perubahan, yakni (1) pembunculan fonem /m/ dan (2) peluluhan /p/               /m/. Konsonan /p/ pada gugus konsonan /pr/ tidak luluh menjadi m : ?memproduksi. perhatikan contah berikut :
                                    Verba                          Nomina
produksi                memproduksi                pemroduksi
proses                      memproses                  pemrosesan

verba seperti memproduksi jika diturunkan menjadi nomina, konsonan /p/ pada awal bentuk dasar itu diluluhkan. Hal tersebut dimaksudkan untuk mempermudahkan pengucapan.
            Awalan me- berubah bentuk menjadi men- jika bergabung dengan bentuk dasar yang berawal dengan konsonan /d/ dan /t/. Pada proses ini terjadi dua perubahan, yakni (1) permunculan fonem /m/ dan (2) peluluhan fonem /t/ menjadi /n/. Konsonan /t/ pada gugus konsonan /tr/ tidak luluh. Contoh :
Takdir                   menakdirkan (bukan: mentakdirkan)
Taat                      menaati (bukan : menaati)
            Awalan me- berubah bentuknya menjadi meny- jika bergabung dengan bentu dasar yang berawal dengan konsonan /s/, /z/, /c/, /sy/, dan /j/. Pada proses ini terjadi dua perubahan, yakni (1) pemunculan fonem /ñ/ (ny) dan (2) peluluhan fonem /s/ menjadi ny. Konsonan /s/ yang mengawali kata-kata asli bahasa indonesia harus diluluhkan menjadi ny jiika mendapat awalan me-. Contoh ;
Colok              menyolok
Sapu                menyapu
Catatan : Nasalisasi (proses mengubah atau memunculkan nasal pada fonem) itu terjadi atas dasar homorgan. Konsonan /s/yang mengawali kata-kata asli bahasa indonesia harus diluluhkan menjadi ny jika mendapat awalan me-. Contohnya :
Sejajar                                menyejajarkan (bukan : mensejajarkan)
Seimbang                          menyeimbangkan (bukan : menseimbangkan)
            Awalan me- berubah bentuknya menjadi meng- jika bergabung dengan bentuk dasar yang berawal dengan vokal /a/, /i/, /u/, /e/, /É™/, /o/, konsonan /g/, /h/, /k/, dan /kh/. Pada proses ini terjadi dua perubahan yakni (1) pemunculan fonem /Å‹/ (ng) dan (2) peluluhan konsonan /k/ menjadi ng. Konsonan /k/ pada gugus konsonan /kl/ dan /kr/ tidak luluh menjadi ng. Contoh ;
Klasifikasi                       mengklasifikasi
Kliping                           mengklipingkan
            Konsonan /k/ pada kata-kata asli bahasa indonesia harus luluh menjadi ng. Contoh :
Kait                 mengaitkan ( bukan ; mengkaitkan)
kelola               mengelola (bukan ; mengkelola)
            awalan me- akan berubah menjadi meng- jika bergabung dengan bentuk dasaryang terdiri atas satu suku kata. Contohnya : mengebom, mengegas. Bentuk aktif seperti mengebom, bentuk pasifnya adalah dibom, bukan diebom. Jadi, awalan di- secara langsung dapat bergabung dengan bentuk dasar yang terdiri atas satu suku.
*               Morfofonemik awalan ber-
·           Awalan ber- berubah bentuknya menjadi be- jika bergabung dengan bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /r/. Jadi, fonem /r/ pada awalan ber- itu dihilangkan seperti.
Berrambut                     berambut
·           Awalan ber- berubah bentuknya menjadi be- jika bergabung dengan bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /É™r/. Seperti kata berkerja menjadi bekerja terjadi peristiwa disimilasi, yakni perubahan dua fonem yang sama menjadi tidak sama. Dalam pemakaian sehari-hari terdapat verba dengan be- (baku).
·           Awalan be- tidak berubah bentuknya menjadi be- karena suku pertama bentuk dasar yang digabungi berakhir dengan /ar/,/ ir/, /ur/, /er/, dan /or, bukan /É™r/.
Contohnya : ajar                berajar                 belajar
·           Awalan ber- berubah bentuknya menjadi bel jika bergabung dengan bentuk dasar ajar dan unjur (terbatas pada dua kata ini).

*             Morfofonemik awalan ter-
·           Awalan ter- berubah bentuknya menjadi te- jika bergabung dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/. Jadi fonem /r/ pada awal ter- itu dihilangkan (Ø).contohnya seperti kata
terrasa             terasa.
·           Awalan ter- berubah bentuknya jika bergabung dengan bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /É™r/. Contoh : terpercik menjadi tepercik terjadi peristiwa disimilasi.
·           Awalan ter- tidak berubah bentuknya menjadi te- karena suku pertama bentuk dasar yang digabungi berakhir dengan /ar/, /ir/, /ur/, dan /or/, bukan /É™r/.
*   Morfofonemik awalan di-
        Awalan di- bebas dari kaidah morfofonemik untuk awalan me-, ber-, dan ter-. Jadi, bergabung dengan bentuk dasar apa pun, bentuknya tidak berubah (pangekalan awalan di-).
*   Morfofonemik akhiran –kan
        Akhiran –kan bergabung dengan bentuk dasar apa pun tidak berubah betuknya. Akhiran –kan sering dikicaukan dengan akhiran –an. Contohnya seperti :
        I                                               II                                
  Gerakan                                  Gerakkan              
  Masukan                                 Masukkan
       
        keterangan : -bentuk (I) nomina
                             -bentuk (II) verba-perintah
                   
        Bentuk seperti samakan, tarikan atau bentuk dasar yang berakhiran huruf vokal (/a,i,u/) mendapatkan akhiran –kan (i); dan dapat juga terjadi dari bentuk dasar yang berakhiran dengan konsonan /k/ mendapatkan akhiran –an (ii). Bentuk (i) verba-perintah, sedangkan bentuk (ii) adalah nomina.
*             Morfofonemik akhiran –i
        Akhiran –i bergabung dengan bentuk dasar apa pun tidak berubah bentuknya. Pada contoh dibawah ini akhiran –i  dapat diganti dengan akhiran –kan.
                      ?   mengisii
i.      Rini                                    gelas-gelas itu dengan air teh.
                         Mengisi                      (O)
ii.     Rini mengisikan air teh ke dalam gelas-gelas itu
        pada akhikran –i tidak digunakan dan tidak diganti dengan akhiran –kan. Jika akhiran –kan itu digunakan, harus ada perubahan fungsi objeknya (gelas-gelas      air teh).
*             Morofofonemik akhiran –an
        Akhiran –an bergabung degan bentuk dasar apapun tidak berubah bentuknya. Contoh : tata + an        tatanan
                                  Buru+an                        buruan
Contoh lain : pesantren terbentuk dari pe- + santri + -an. Bunyi /e/ muncu akibat luluhnya fonem /i/ pada akhir bentuk dasar (santri) dan fonem /a/ pada awal akhiran –an (bagian dari konfiks  pe –an)
        Contoh-contoh diatas diserap secara langsung dan utuuh (adopsi) dari bahasa jawa ( Kamus Besar Bhasa Indonesia; Edisi II, 1991: 426: 483: 762).
        Masih berkaitan dengan ihwal morfofonemik, perlu diperhatikan pemunculan konsonan /n/  pada kata-kata berikut.
(25) pompa + - isasi               pompanisasi
        Turi + - isasi                turinisasi
Bandingkan dengan
(25a) mawar + - isasi               mawarisasi
          Belimbing + - isasi                belimbingisasi
        Konsonan /n/ muncul jika bentuk dasarnya berakhir dengan vokal (contoh (25)). Dan tidak muncul jika bentuk dasarnya berakhir dengan konsonan  (contoh 25a)).
        Kebalikan dari pemunculan  adalah pelepasan, seperti yang tampak pada contoh berikut ini.
(26) sejarah + - wan            sejarawan
        Ilmiah + - wan            ilmiawan
Bandingkan dengan
        Negara + - wan           negarawan
        Rohani + - wan           rohaniawan
            Akhiran –wan­memang lazimnya bergabung dengan bentuk dasra yang berakhiran dengan vokal. Jika bentuk dasar yang digabungi akhiran –wan ­itu berakhir dengan konsonan, konsonan akhir tersebut mengalami pelepasan (contoh (26)).
Konsonan /k/ pada akhir bentuk dasar mengalami pelepasan jika digabungi akhiran –nda. Pelepasan konsonan /k/ dimaksudkan untuk memperlancar pengucapan.
Contohnya : anak + - nda = anaknda              ananda
Bandingkan dengan
        Bapa + - nda            bapanda
        Ibu + - nda            ibunda
        Bentuk dasar yang berakhiran dengan vokal (a, u, i) tidak berubah bentuknya.

2.2    Morfosintaksis
            Sebagimana telah kita ketahui, bahwa tata bahasa itu mencakupi morfologi dan sintaksis. Cabang ilmu bahasa yang membahas kedua bidang itu disebut morfosintaksis. Proses morfologis dapat mengubah struktur kalimat. Sebaliknya proses sintaksis dapat mengubah bentuk verba predikat.
Contoh 1 :
(28)     i.   Ayah pergi  ke toko.
            ii.  Ayah membeli  baju untuk adik.
            iii. Ayah membelikan adik  baju
                Bentuk dan jenis verba predikat dapat menentukan kehadiran konstituen kalimat. Verba predikat pergi mesyartkan satu konstituen saja, yaitu ayah berfungsi sebagi subjek. Verba predikat membeli mensyartkan dua konstituante, yakni ayah sebagi subjek dan baju sebgai objek; sedangkan konstituen untuk adik bersifat manasuka. Artinya, kalimat (ii) tetap gramatikal jika tanpa konstituen untuk adik.
Contoh 2 :
(29)   a.  Tono sudah membaca buku ini.
         b.  i.     Buku ini sudah dibaca Tono.
              ii.    Buku ini sudah Tono baca.
              iii* Buku ini, Tono sudah membaca.
              iv.   Buku ini, Tono sudah membacanya(kalimat dislokasi kiri).
                   Dipindahkannya objek (buku ini) ke posisi awal kalimat mewajibkan bentuk verba predikat aktif membaca  diubah menjadi bentuk verba pasif di-, yakni dibaca. Pola bentuk pasif (ii) terbatas pada pemakian sehari-hari. Pola bentuk aktif (iii) tidak berterima enklitika –nya. Kalimat dislokasi kiri adalah kalimat ubahan drai kalimat dasar dengan mengedepankan objek (surat itu) dan tempat semula diisi oleh pronomina –nya.
              Dalam kalimat perintah transitif awalan me- harus dilesapkan : dan jika dipertahankan, kalimat perintah itu tidak berterima (i). Dalam kalimat larangan baik verba membaca maupun baca boleh digunakan (iii).
Contoh :
a.    i.   Dia mengejar saya.
ii.  Saya mengejar  dia.

iii. Saya dan dia      kejar-mengejar.
                                Saling mengejar
b.       *  saya         berkejaran
                     * dia
c.       mereka                              berkejaran
     anak-anak itu
              pada contoh diatas terdapat keserasian antara subjek dan predikatnya. Verba mengejar  dipakai untuk subjek tunggal; verba kejar-mengejar /saling mengejar untuksubjek ganda; sedangkan verba berkejaranuntuk subjek jamak. Jadi, bentuk dan jenis verba dapat menentukan jumlah subjek. Contoh diatas memperlihatkan perilaku sintaksis verba dalam bahasa indonesia. Contoh berikut memperlihatkan keserasian antara, predikat, dan objek jamak., antar objek jamak dan verba keterangan objek.
d.          Saya    
       Dia              mengambili kertas-kertas yang berserakan di lantai
      Mereka         itu.

2.4  Proses Morfologis
            Kata bentukan/turunan dapat terjadi dengan dua cara, yakni (1) langsung dan (2) tak langsung. Proses yang langsung disebut pembentukan, sedangkan yang tak langsung disebut penurunan. Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan bentuk-bentuk kata pada gambar berikut .
                                                Ajar
    


(1)    mengajar                                                                                    belajar

(2)   Pengajar                                                                pelajar

(1)      Verba mengajar dan juga belajar “dibentuk” secara langsung dari pradasar verba ajar, masing-masing dengan awalan me- dan ber- .
(2)      Nomina pengajar dan pelajar masing-masing diturunkan dari verba mengajar dan belajar “dibentuk” tidak secara langsung (--) dari dasar ajar, tetapi harus melalui verba mengajar dan belajar yang merupakan bentuk antaran .

Dalam bahasa indonesia terdapat nomina berawalan pe-, seperti pemarah, pemalas, dan pelupa. Jika dilihat dari makna gramatikalnya, kata-kata itu terbentuk langsung dari dasra marah,malas, dan lupa. Tidak diturunkan dari verba “bermarah” memarah “bermalas”/*memalas, dan *berlupa/*melupa. Jadi, nomina-nomina tersebut tidak memiliki verba sebagai sumber penurunannya. Seccra tidak langsungatau langsung kata bentukan dapat terjadi secara bertahap. Seperti contoh berikut
Dasar
Tahap I
Tahap II
Rata
Merata
Memeratakan; kemerataan
Sama
Bersama
Membersamakan; kebersamaan
Libat
Terlibat
Menerlibatkan; keterlibatan
Dari uraian diatas dapat dinyatakan bahwa proses morfologis adalah proses terjadinya kata bentukan dari bentuk dasar atau proses terjadinya kata turunan dari sumber penurunan.

Ciri-ciri Proses Morfologis.
            Proses morfologis dapata menimbulkan perubahan tentang (1) bentuk, (2) kategori, (3) makna.

Dasar
Bentuk
Makna
Besar (a)







Duduk (v)







  a = adjektiva
  b = nomina
  v = verba
Membesar (v)
Membesarkan (v)
Memperbesar (v)
Terbesar (a)
Pembesar (n)
Pembesaran (n)
Kebesaran (n)/(a)

Menduduki (v)
Terduduk (v)
Penduduk (v)
Kedudukan (n)

Beranak (v)
Memperanakkan (v)
Kekanak-kanakan

‘menjadi besar’
‘menjadikan besar’
‘menjadikan lebih besar’
‘paling besar’
‘orang yang berpangkat tinggi’
‘cara membesarkan’
‘hal/keadaan besar’
‘terlalu besar’
‘duduk di’
‘tidak disengaja’
‘orang yang mendiami suatu tempat’
‘tempat kediaman’
‘tingkat/pangkat’
‘melahirkan anak; mempunyai anak’
‘menganggap sebagai anak senndiri’
‘bertingkah laku seperti anak’

Macam-macam Proses Morfologis
            Proses morfologis dapat dibedakan atas tiga macam, yakni pengimbuhan, pengulangan, dan pemajemukan.
1.      Pengimbuhan adalah proses pembentukan kata dengan menambahkan imbuhan pada bentuk dasar. Imbuhan adalah bentuk terikat yang ditambahkan pada bentuk dasar untuk membentuk  kata jadian. Bentuk dasra adalah bentuk bahasa yang dipakai menjadi dasar dalam proses pembentukan kata jadian.
2.      Pengulangan adalah proses pembentukan kata dengan mengulang bentuk dasar, baik secara utuh maupun sebagian. Hasil pengulangan disebut kata ulang. Untuk membentuk kata ulang dari bentuk dasar dipakai morfem ulang yang terdiri atas (1) morfem ulang utuh, (2) morfem ulang sebagian (3) morfem ulang saling suara dan (4) morfem ulang yang disertai imbuhan. Keempat morfem ulang itug-masing memiliki daya ulang , yakni kemampuan untuk mengulang bentuk dasar menjadi kata ulang.
3.      Pemajemukan adalah proses pembentukan kata dengan menggabungkan dua bentuk dasar atau lebih menjadi satu kata baru. Bentuk dasar yang digabungkan dapat berupa pradsar dan kata dasar.







BAB II
KATA BERIMBUHAN

A.    Pengertian Kata Berimbuhan
Kata berimbuhan adalah kata – kata dasar yang mendapatkan imbuhan yang berupa awalan, akhiran, sisipan, dan awalan – akhiran. Imbuhan sendiri berfungsi untuk menambahkan arti atau maksud dari kata – kata dasar yang diberi imbuhan tersebut.
Dalam Bahasa Indonesia ada empat macam imbuhan, yaitu : awalan (prefiks), sisipan (infiks), akhiran (sufiks), dan awalan – akhiran (konfiks).
1)      Awalan (Prefiks)
Prefiks adalah imbuhan – imbuhan yang diletakkan pada awal kata dasar. Contoh : me-, ber-, ke-, di-, pe-, dan ter-. Contoh : ber- + main = bermain
2)      Sisipan (Infiks)
Sisipan adalah imbuhan yang diletakkan di tengah – tengah kata dasar. Bentuknya antara lain –el, -em, dan –er. Contoh : -em- + getar = gemetar
3)      Akhiran (Sufiks)
Sufiks adalah imbuhan yang diletakkan pada akhir kata dasar. Bentuk akhiran diantaranya adalah –kan, -i, -an, -kah, -tah, dan –pun. Contoh : dengar + kan = dengarkan
4)      Awalan – akhiran (Konfiks)
Konfiks adalah imbuhan yang diletakkan pada bagian awal dan akhir kata. Imbuhan konfiks diantaranya : me-kan, pe-an, ber-an, dan se-nya. Contoh : pada kata mengirimkan, memantulkan.
B.     Identifikasi Bentuk Dasar
Dari bentuk dasar dapat kita identifikasi tentang kategori dan komponen maknanya (fitur semantis).
C.    Identifikasi Segi Imbuhan
Dari segi imbuhan dapat kita identifikasi tentang fungsi dan makna gramatikalnya. Sebagai contoh kita gunakan kata bersepedah dalam kalimat.
‘Setiap hari Minggu saya bersepedah ke luar kota’
Bentuk dasar sepeda berkategori nomina dan berkomponen makna [+ kendaraan], sedangkan awalan ber- berfungsi membentuk verba dan bermakna gramatikal ‘naik / mengendarai’.

2.1 Awalan me-
a. Fungsi : membentuk verba (1) aktif tak transitif  dan (2) aktif transitif.
Verba aktif tak transitif tidak dapat dipasifkan, sedangkan verba transitif dapat dipasifkan. Contoh : batu (dasar) → membantu (verba)
b. Makna
5)      ‘melakukan tindakan dengan alat …’
Contoh : memancing
6)      ‘membuat’
Contoh : menumis, menggulai
7)      ‘mencari / mengumpulkan’
Contoh : merumput
8)      ‘hidup sebagai’
Contoh : menduda
9)      ‘berlaku seperti’
Contoh : membabi buta
10)  ‘menjadi seperti’
Contoh : menyemut
11)  ‘menjadi’
Contoh : mengarang
12)  ‘menuju ke … ‘
Contoh : mendarat
13)  ‘mengeluarkan suara’
Contoh : mengeong
14)  ‘menjadi’
Contoh : memutih, menguning
15)  ‘menimbulkan kesan seperti orang yang … ‘
Contoh : membisu, mengalah
16)  ‘menjadi’
Contoh : menyatu, mendua
17)  ‘memperingati’
Contoh : menyeribu hari
18)  ‘mengatakan’
Contoh : mengaku

2.2 Awalan di-
a. Fungsi : membentuk verba  pasif
Bentuk pasif di- merupakan ubahan dari verba transitif berawalan me-. Contoh : membaca (aktif me-) → dibaca (pasif di-)
2.3 Awalan ter-
a. Fungsi : membentuk verba pasif. Bentuk dasar yang digabungi awalan ter- umumnya berupa 1) verba dasar dan 2) verba pradasar.
b. Makna
1)      ‘dapat di  …’
Contoh : tak terhitung, tak mungkin terbalas
2)      ‘tidak disengaja’
Contoh : terbawa
3)      ‘tiba – tiba’
Contoh : tertidur, teringat
4)      ‘telah dilakukan’
Contoh : tercetak, terbayar
5)      ‘orang yang di-‘
Contoh : terdakwa, tertuduh, tersangka
6)      ‘menyatakan arah atau tempat’
Contoh : tertulang, terpojok
7)      ‘Deponens’
Contoh : terbentur, terinjak
2.4 Konfiks ke-an
a. Fungsi : membentuk verba pasif. Bentuk dasar yang digabungi konfiks ke-an dapat berupa 1) verba, 2) adjektiva, dan 3) nomina. Contoh : kedatangan (verba), kedinginan (adjektiva), dan kebanjiran (nomina).
b. Makna
1)      ‘dapat di  …’
Contoh : kelihatan, kedengaran
2)      ‘terkena / menderita’
Contoh : kedinginan, kehausan
3)      ‘tidak disengaja’
Contoh : ketumpahan, kejatuhan

2.5  Awalan ber-
a. Fungsi : membentuk verba aktif tak transitif. Contoh : ibu (dasar), beribu (verba).
b. Makna
1)      ‘mempunyai’
Contoh : beranak, berilmu
2)      ‘memakai’
Contoh : berbahasa, bercelana
3)       ‘mengendarai / naik’
Contoh : berkuda, bersepeda
4)      ‘memanggil / menyapa’
Contoh : beradik, berkakak
5)      ‘menghasilkan’
Contoh : bertelur, beranak
6)      ‘mengeluarkan bunyi’
Contoh : berkokok
7)      ‘melakukan pekerjaan sebagai’
Contoh : berkedai
8)      ‘berbalasan / saling’
Contoh : bertinju, berhantam
9)      ‘perbuatan terhadap diri sendiri’
Contoh : berdandan
10)  ‘yang di-‘ (pasif)
Contoh : bersambut
11)  ‘menjadi’
Contoh : bersatu
12)  ‘bersama – sama’
Contoh : berdua, bertiga
13)  ‘mata pencaharian’
Contoh : berjual, beternak
14)  ‘dalam keadaan’
Contoh : bergembira, bersedih
15)  ‘mengatakan / menyebut’
Contoh : beraku, berengkau

2.6  Konfiks ber-an
a. Fungsi : membentuk verba aktif tak transitif. Dasar yang dibentuk dengan konfiks ber-an dapat berkategori 1) verba dasar, 2) adjektiva, dan 3) nomina.
Contoh :     datang → berdatangan
                   Jatuh  → berjatuhan
b. Makna
1)      ‘perbuatan itu dilakukan oleh banyak pelaku’
Contoh : para tamu  sudah berdatangan
2)      ‘menyatakan jumlah benda yang banyak
Contoh : saya mengambil kertas – kertas yang berserakan di lantai.
3)      ‘saling’
Contoh : bersentuhan, bersapaan
4)       menyatakan proses yang berulang – ulang / berkali – kali’
Contoh : berlarian, berkejaran
5)      ‘menyatakan berelasi … satu sama lain’
Contoh : berjauhan, berseberangan
2.7  Gabungan imbuhan ber - kan
a. Fungsi : membentuk verba tak transitif.
Contoh :     istri (dasar)  → beristri (ber-)→ beristrikan (ber-kan)
b. Makna
1)      ‘mempunyai’
Contoh : beristrikan
2)      ‘memakai sebagai’
Contoh : bersenjatakan
3)      ‘sebagai pemanis’
Contoh : bertaburkan
2.8. Gabungan imbuhan me-i
a. Fungsi: Membentuk verba aktif transitif.
Dasar yang dibentuk imbuhan me-I dapat berkategori: verba dasar, verba pradasar, adjektiva, nomina, numeralia, pronomina, adverbia.
Contoh: datang – mendatangi
            Jatuh –menjatuhi
b. Makna: 1. Pekerjaan itu dilakukan berulang-ulang
                        contoh: mereka melempari gedung itu dengan batu
                 2. Memberi
                        Contoh: Tuhan telah menganugerahi kita kenikmatan dan kesehatan
                 3. Membubuhkan
                        Contoh: Pak Lurah sudah menandatangani surat itu
                  4. Membuang
                        Contoh: Ibu sedang menyisiki ikan gurami
                 5. Menjadi sebagai
                        Contoh: Saya akan menemani dia selama ayahnya ke Jakarta
                 6. Berlaku seperti
                        Contoh: Kamu jangan suka menggurui orang tua
                 7. Melakukan dasar di/ke(lokatif)
                        Contoh: Berhati-hatilah anda memasuki kawasan terbatas
                 8. Menyebabkan, menjadikan (Kausatif)
                        Contoh: Kata-kata kasar itulah yang melukai hati saya
2.9. Gabungan imbuhan me-kan
a. Fungsi : membentuk verba aktif transitif. Dasar yang dibentuk dengan imbuhan me-kan dapat berupa: verba dasar,  verba pradasar, adjektiva, nomina, numeralia, pronomina, adverba, preposisi gabungan.
Contoh: datang- mendatangkan
Makna:
1.      melakukan pekerjaan untuk orang lain
2.      membuat sesuatu menjadi
3.      menjadikan atau menganggap obyek sebagai
4.      membawa
5.      membawa ke-
6.      melakukan pekerjaan dengan alat
2.10. Gabungan imbuhan memper-
a. Fungsi: membentuk verba transitif. Dasar yang dibentuk imbuhan memper- dapat berkategori: adjektiva, nomina, numeralia, preposisi tertentu.
Contoh: cepat-mempercepat
b. Makna:
     1. membuat menjadi
                 2.  menjadikan
                 3. memperlakukan/menganggap sebagai
2.11. Gabungan imbuhan memper-i
a. Fungsi: membentuk verba transitif. Dasar yang dibentuk dengan imbuhan memper-I dapat berupa: verba, adjektiva, nomina, numeralia.
Contoh: ajar-mempelajari
b. Makna:
     1. membuat menjadi
                 2. memberi ber-
2.12. Gabungan imbuhan memper-kan
a. Fungsi: membentuk verba transitif. Dasar yang dibentuk dengan imbuhan memper-kan dapat berkategori: verba, nomina, numeralia, adjektiva tertentu dan preposisi tertentu.
Contoh. Dengar-mendengarkan
b. Makna: 1. menjadikan ber-
                 2. membuat jadi
                 3. menjadikan obyek di-
2.13. Awalan pe-
a. Bentuk: awalan pe- sejalan dengan bentuk awalan me-. Contoh: melatih    pelatih
b. Fungsi: membentuk nomina melali bentuk antara verba berawalan me-, me-I, me-kan
contoh: ajar-mengajar-pengajar
c. Makna: 1. Orang yang me-
                2. orang yang berprofesi me-
                3. Orang yang bersifat
                4. sesuaatu yang di-
                5. alat untuk me-
2.14. Awalan per-
a. Bentuk:bentuk awalan per- sejalan dengan bentuk awalan ber-. Awalan per- memiliki alomorf per-, pe-, dan pel-.
Contoh: bertapa-petapa
b. Fungsi: membentuk nomina melalui bentuk antara verba berawalan ber-
c. Makna: 1. Pelaku yang ber-
                2. pelaku yang di-
                3. sesuatu yang di-

2.15 Konfiks pe-an
a.           Bentuk
Konfiks pe-an memiliki alomorf
1)                  pe-an, → pelatihan
2)                  pem-an, → pembinaan
3)                  pen-an, → pendataan
4)                  peny-an, → penyatuan
5)                  peng-an, → pengukuran
6)                  penge-an, →pengeboman
b.         Fungsi
Membentuk nomina yang diturunkan dari verba
1)                  berawalan me → mengajar menjadi pengajaran
2)                  berimbuhan me-i → menghormati menjadi penghormatan
3)                  berimbuhan me-kan → menyelaraskan menjadi penyelarasan
c.          Makna
1)                  hasil perbuatan → kata “pengamatan”
2)                  hal perbuatan → kata “pembangunan”
3)                  cara / proses → kata “pengawasan”
4)                  tempat melakukan pekerjaan → kata “pemandian”
2.16 Konfiks per-an
a.          Bentuk
Konfiks per-an memiliki alomorf
1)                  per-an, → persatuan
2)                  pe-an, → pekerjaan
3)                  pel-an, → pelajaran
b.         Fungsi
membentuk nomina per-an yang diturunkan dari
1)                  verba ber-,  → bersatu menjadi persatuan
2)                  verba me-,  → melawan menjadi perlawanan
3)                  verba memper-,  → memperluas menjadi perluasan
4)                  verba memper-i, → memperbaiki menjadi perbaikan
5)                  verba memper-kan, → mempertahankan menjadi pertahanan
c.          Makna
1)                  ‘hal . . .’ → kata “persatuan”
2)                  ‘hasil perbuatan’ → kata “perjuangan”
3)                  ‘tempat ber-‘ → kata “perguruan”
4)                  ‘wilayah / daerah / kawasan’ → kata “pegunungan”
2.17 Konfiks ke-an
a.        Bentuk
Konfiks ke-an tidak pernah mengalami perubahan bentuk jika digabungkan dengan bentuk dasar apa pun.
Contoh :
bentuk kata kabupaten (kebupatian), keputren (keputrian), dan keraton (keratuan) diadopsi dari bahasa Jawa.
b.         Fungsi
Berfungsi membentuk nomina. nomina ke-an tidak diturunkan dari verba sumber, tetapi bergabung langsung dengan bentuk dasar.
1)                  verba dasar,  → kedudukan
2)                  nomina,  → kemanusiaan
3)                  adjektiva,  → kesehatan
4)                  numeralia, → kesatuan
5)                  adverbia, → kesudahan
6)                  pronomin, → keakuan
Jika dilihat dari bentuknya, dasar yang digabungi konfiks ke-an dapat berupa kata jadian berawalan 1) me-[kemerataan], 2) ber-[kebersamaan], 3) ter-[keterlambatan], 4) se-[kesejajaran], 5) pe-[kependidikan], 6) kata ulang[kekanak- kanakan], 7) majemuk[ketatabahasaan], dan 8) frasa [kurang mampu - kekurangmampuan].
c.                   Makna
1)                   ‘hal / keadaan ’ → kata “kebersihan”
2)                   ‘tempat / daerah / wilayah’ → kata “kedutaan”
3)                   ‘yang di-‘ → kata “kesayangan”
4)                   ‘kumpulan’  → kata “kepulauan”
2.18 Akhiran -an
a.     Bentuk
Akhiran -an tidak pernah mengalami perubahan bentuk baik digabungkan dengan bentuk dasar yang berakhiran konsonan maupun vokal.
Contoh :
awalan, akhiran, imbauan, buaian, buruan, dan harian
b.    Fungsi
Berfungsi membentuk nomina. nomina berakhiran -an tidak diturunkan dari verba 1) ber- [berlabuh - labuhan], 2) verba me- [menggambar - gambaran], 3) verba me-kan [mengajarkan - ajaran].
c.     Makna
1)        ‘hasil me-’ → kata “karangan / tulisan”
2)        ‘cara me-‘ → kata “didikan / asuhan”
3)        ‘yang di-‘ → kata “makanan / minuman”
4)        ‘tempat / lokasi’  → kata “belokan”
5)        ‘alat untuk me-‘ → kata “garisan”
6)        ‘tiap - tiap (mengacu pada waktu yang berkala)’ → kata “mingguan / bulanan”
7)        ‘beberapa’ → kata “ribuan”
8)        ‘berbagai’ → kata “sayuran”
9)        ‘kumpulan’ → kata “daratan”
10)    ‘sekitar’ → kata “60 - an “
11)    ‘tingkat lebih’ → kata “tinggian”

2.19 Akhiran -man, -wan, dan -wati (Sansekerta)
a.     Bentuk
Bentuk ketiga akhiran itu bergantung pada fonem akhir bentuk dasar yang digabunginya.
Contoh :
seniman, budiman, seniwati
sastrawan, ilmuwan, tokowan, rohaniwan
b.    Fungsi
Berfungsi membentuk nomina. Bentuk dasar yang digabungi berkategori nomina dan juga adjektiva. Dari ketiga akhiran itu akhiran -wan tampak produktif, sedangkan akhiran ­-man dan -wati tidak produktif.
c.     Makna
1)        ‘orang yang suka ...’ → kata “dermawan”
2)        ‘orang yang memiliki ...’ → kata “hartawan”
3)        ‘orang yang ahli di bidang ...‘ → kata “sastrawan”
4)        ‘orang yang berprofesi di bidang ...’  → kata “usahawan”
2.20 Akhiran at/-in, -i/-wi, dan iah (arab)
Dalam Bahasa Indonesia ada sekelompok nomina berakhiran -at/-in.
Contoh : muslim → muslimat → muslimin [perbedaan jenis kelamin]
Dalam Bahasa Indonesia ada bentuk yang perbedaannya hanya terletak pada alternatif antara fonem /a/ (pria) dan /i/ pada wanita.
Contoh : dewa → dewi
                mahasiswa → mahasiswi
Akhiran -iah berfungsi membentuk adjektiva dari nomina
Contoh : alam (nomina) → alamiah (adjektiva)
2.21 Akhiran -isasi
Akhiran -isasi merupakan penyesuaian dari akhiran -isatie (Belanda) atau -ization (Inggris) juga diserap ke dalam bahasa Indonesia bersama - sama dengan bentuk dasarnya secara utuh.
Contoh :
Belanda
Inggris
Indonesia
legalisatie
legalization
legalisasi
liberalisatie
liberalization
liberalisasi
modernisatie
modernization
modernisasi
normalisatie
normalization
normalisasi
specialisatie
specialization
specialisasi

2.22 Akhiran –tas /- itas
Akhiran –tas / itas merupakan penyesuaian dari akhiran –ty/-ity (Inggris.) Akhiran –tas/-itas diserap bersama – sama dengan bentuk dasarnya secara utuh.
Contoh : activity (Inggris) → aktivitas (Indonesia)
2.23 Akhiran -isme
Akhiran –isme merupakan penyesuaian dari akhiran –isme (Belanda) atau –ism (Inggris).
Contoh : egoisme (Belanda) → egoism (Inggris) → egoisme (Indonesia)


2.24 Akhiran –is
Akhiran –is merupakan penyesuaian dari akhiran –isch (Belanda) atau –ical (Inggris).
Contoh : logisch (Belanda) → logical (Inggris) → logis (Indonesia)
2.23 Akhiran -al
Akhiran –al merupakan penyesuaian dari akhiran –eal / aal(Belanda) atau –al (Inggris).



































BAB III
KATA ULANG

A.    Kata Ulang
Kata ulang adalah kata jadian yang terjadi dalam pengulangan bentuk dasr. Bentuk dasar yang diulang dapat berupa (1) kata dasar. dan dapat juga berupa (2)  kata jadian. Katagori kata yang dapat diulang adalah (1) verba (2) nomina (3) adjectiva, (4) adverbia (5) numeralia, dan (6) pronomina.
Perhatika contoh pengulangan berikut!
Dasar
Kata dasar
Kata jadian
(1)   Verba
Duduk-duduk
Berlari-lari
(2)   Nomina
Ibu-ibu
Pengajar-pengajar
(3)   Adjectiva
Sehat-sehat
Sakit-sakitan
(4)   Adverbia
Lebih-lebih
Habis-habisan
(5)   Numeralia
Satu-satu
Kedua0duanya
(6)   Pronomina
Apa-apa
Apa-apaan (cak)
 (cak = bahasa percakapan)

3.1 Bentuk Kata Ulang
            Menurut bentuknya, kata ulang dapat dibedakan empat macam, yakni (1) kata ulang utuh (2) kata ulang sebagian (3) kata ulang salin suara (4) kata ulang berimbuhan.

3.1.1 Kata Ulang Utuh
            Kata ulang utuh adalah kata ulang yang dibentuk dengan mengulang b entuk dasar secara utuh.
Bentuk Dasar
Kata Ulang Utuh
Ibu
Ibu-ibu
Bapak
Bapak-bapak

            Kata majemuk setara, seperti ibu bapak, suami istri, anak cucu. Dan sawah lading diulang secara utuh.

Cobalah perhatikan perbedaan bentuk ulang I dan II berikut!
I
II


Ibu bapak – ibu bapak
Ibu-ibu, bapak-bapak
Suami istri – suami istri
Suami-suami, istri-istri
Anak cucu – anak cucu
Anak-anak, cucu-cucu
Sawah lading –sawah ladang
Sawah-sawah, lading-ladang

Ibu Bapak – Ibu Bapak
Ibu-ibu, Bapak-bapak


 
i.                                                       Yang kami hormati

ii.
bentuk ulang yang lazim digunakan  adalah bentuk ulang II karena terasa lancer dan praktis  bentuk ulang II dapat diungkapkan dengan kata para.

iii.        para ibu dan bapak yang kami hormati!
Kalimat  iii. Diatas terasa lebih halus/sopan daripada kalimat ii. (bukan para ibu-ibu dan para bapak-bapak).
            3.1.2 Kata Ulang Sebagian
Kata ulang sebagian adalah kata ulang yang dibentuk dengan mengulang bentuk dasar secara sebagian.
Contoh :

Bentuk dasar
Kata Ulang Sebagian
i
Jaka
Jejaka
ii
Memukul
Memukul-mukul
iii
Menolong
Tolomg-menolong
iv
Sayuran
Sayur-sayuran
V
Bersalaman
Bersalam-salaman
Vi
Keibuan
Keibu-ibuan




Bentuk kata ulang contoh i. disebut dwipurna, yakni perulangan (sebagian) suku awal bentuk dasar (ulang awal suku kata) unsur ulang bentuk dasar (ulang awal suku kata) unsur ulang suku awal bentuk dasar berakhir dengan vocal (e terbalik). Bentuk ulang contoh ii. Disebut kata ulang porgesif (arah kanan) sedangkan kata ulang contoh iii. Disebut kata ulang regresif (arah kiri) bentuk ulang contoh iv., v., dan vi., disebut kata ulang progesif.
Contoh kalimat :
i.                    kita wajib menghormati nilai-nilai luhur para leluhur kita yang telah mewariskan  keluhurannya kepada kita.
ii.                  Karena marah, dia memukul-mukul meja
iii.                Kedua anak yang berkelahi itu pukul-memukul dan tending-menendang
iv.                Dipasar sayur dan  buah dijual sayur-sayuran dan buah-buahan
v.                  Selesai melaksanakan sholat idhul fitri, mereka bersalam-salaman dan bermaaf-maafan
vi.                Bu Tuti seorang ibu muda, tetapi telah menampakkan keibuannya terhadap anak pertamanya . Bu rini adalah guru TK yang keibu-ibuan terhadap murid-muridnya

3.1.3 Kata Ulang Salin Suara
            Kata ulang salin suara adalah kata ulang utuh denagn variasi vokal atau konsonan padabbentuk dasar. Perhatikan contoh berikut:






Unsur Ulang
Bentuk Dasar
Unsur
Ulang
Arah
i.    Corat                -
     Mocat               -
     Kedap               -
     Cengengas       -
     Gembar             -
     Desas                 -
ii.
Coret
Macet
Kedip
Cengenges
Gembor
Desus
Warna                          -
Serba                            -
Teka                             -
Basa                             -
Gerak                           -





Warni
Serbi
Teki
Basi
Gerik
Kekiri
(regresif)




Ke kanan
(Progresif)

            Sementara itu, dalam Bahasa Indinesia terdapat kata ulang salin suara yang tidak di kenali lagi bentuk dasarnya (sudah menjadi bentuk beku) , yakni bentuk kata yang memiliki pasangan tertentu/tetap (teradat).
Contoh :
             iii.  Compang – Camping
                    Mondar  - Mandir

Selanjutnya, marilah kita perhatikan kata ulang salin suara dengan perubahan konsonan berikut ini.
Bentuk Dasar
Unsur Ulang
Perubahan
Sayur                         -
Lauk                                 -
Beras                               -
Cerai                                -
Corang                           
Mayur
Pauk
Petas
Berai
Moreng
S
L
B
C
C

Pada contoh diatas tampak bahwa bentuk dasarnya selalu terletak pada posisi pertama, sedangkan unsure ulangnya pada posisi kedua (Progresif). Tidak seperti kata ulang salin suara contoh (180), perubahan konsonan itu tidak dapat di tentukan, mengapa konsonan /s/ berubah menjadi /m/, konsonan /l/ menjadi /p/, dan sebagainya.
Unsur ulang mayor,pauk,petas,berai dan moreng pada kata ulang salin suara itu merupakan unsure unik, yakni satuan morfemik yang hanya khusus berdaya gabung dengan unsur inti (dasar) tertentu atau dengan unsur unikcontuh (181).
Perlu juga di ketahui bahwa baik pada kata ulang salin suara dengan perubahan vokal maupun dengan perubahan konsonan, fonem pada bentuk dasar dan unsur ulangnya sama banyaknya.
                        Contoh :
                                    Corat (5) -Coret (5)
                                    Gembar (6) – Gembor (6)
3.1.4  Kata Ulang Berimbuhan

            Kata ulang berimbuhan adalah kata ulang yang disertai pengimbuhan dengan (i) awalan ber-(ii) konfiks ber-an (iii) awalan me -, (iv) gabungan me-i(v) gabungan me-kan(vi) konfiks ke-an, dan (vii) akhiran –an
Contoh :
                                 Bentuk dasar                   Kata Ulang Berimbuhan
(ia)
Bercakap
-
Bercakap – cakap
(ib)
Berbondong
-
Berbondong - bondong
(ic)
Berpuluh
-
Bepuluh – puluh
(id)
Berbulan
-
Berbulan – bulan
(ie)
Malas
-
Bermalas – malas
(if)
Berjumpa
-
Berjumpa – jumpa

            Bentuk verba ber- seperti contoh (ib), (ic), dan (id)tidak terdapat dalam pemakaian bahasa Indonesia. Dengan demikian, bentuk verba ber- tersebut tidak dapat menjadi bentuk dasar perulangan. Kata ulang contoh (ie) dibentuk secara langsung dari bentuk dasar disertai awalan ber- (terjadi secara serempak), tidak dibentuk dari dasar verba ber- pada contoh (if) ada dalam bahasa Indonesia, tetapi tidak dapat , mengalami proses pengulangan (bersifat tertutup).

(ii)
Berdekatan
-
Berdekat – Dekatan
(iia)
Berciuman
-
Bercium – Ciuman
(iib)
Kasih
-
Berkasih – kasihan
(iic)
Berdatangan
-
Berdatang - Datangan

            Kata ulang contoh (ii) dibentuk dari dasar verba konfiks ber-an. Bentuk ber-an pada contoh (iia) bukan konfiks, melainkan awalan ber- yang digabungkan dengan bentuk yang sudah berakhiran –an (ber- + gandengan/ciuman/pelukan) yang kemudian di ulang seperti contoh (ii) kata ulang contoh (iib) di bentuk langsung dari dasar kata dasar (kasih/sumpah/teguh) berkonfiks ber- an, tidak di bentuk dari dasar verba ber- an karena memang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Verba berkonfiks ber-an pada contoh (iic) ada dalam bahasa Indonesia, tetapi tidak dapat mengalami proses pengulangan.
            Dalam bahasa sehari-hari terdapat kata ulang cium-ciuman, cinta-cintaan, peluk-pelukan, dan pacar-pacaran yang seharusnya berawalan ber-. Penghilangan awalan ber- pada kata ulang dia atas mungkin sekali akibat pengaruh bahasa Jawa.

(iii)
Memukul
-
Memukul – mukul
(iiia)
Memukul
-
Pukul – memukul
(iiib)
Memasak
-
Masak – memasak

Proses pengulangan pada contoh (iii) dan (iiia) tidak mengubah kategori  kata ulang itu dari bentuk dasarnya. Jadi, baik bentuk dasar maupun kata ulangnya berkategori sama, yakni sama-sama berkategori verba. Hal ini berbeda dari contoh (iiib) Verba memasak, mengarang, dan menjahit berubah kategorinya menjadi nomina setelah mengalami pengulangan regresif. Bandingkanlah kata ulang contoh (iiib) dengan kata ulang progresif memasak masak, mengarang ngarang dan menjahit jahit!
Perlu di catat bahwa verba ulang progresif seperti memukul-mukul dapat di pasifkan menjadi dipukul-pukul, sedangkan verba ulang regresif seperti pukul-memukul tidak dapat dipasifkan menjadi *pukul-dipukul. Contoh lainnya adalah tolong-menolong yang tidak dapat dipasifkan menjadi tolong-menolong.

a.       i. Karena marahnya dia memukul-mukul meja itu.
ii. Karena marahnya itu dipukul-pukulnya.
b.      i. Kedua anak itu pukul-memukul
         puku-dipukul
            Catatan:
                        Perhatikanlah perbandinga bentuk kata ulang bahasa Indonesia dan bahasa Jawa berikut ini!
                                    Menolong-nolong  =  nulung-nulung
                                    Tolong-menolong  =  tulung-tinulung;
                                                                     ? tulung-nulung
            Pada contoh diatas tampak bahwa bentuk verba ulang regresif yang mengandung makna ‘salin …’, dalam bahasa Indonesia di nyatakan dengan verba ulang aktif tolong-menolong, sedangkan dalam bahasa Jawa dinyatakan dengan verba ulang pasif –in tulung-tinulung (bukan pasif di-: *tulung-ditulung).
(iv)
Mengajari
-
Mengajar-ajari
(iva)
Mengajari
-
Ajar-mengajari

Contoh (iv) adalah kata ulang progresif dengan arti ‘berulang-ulang’, sedangkan contoh (iva) adalah kata ulang regresif dengan arti ‘saling’.
(v)
Mencarikan
-
Mencari - carikan
(va)
Mencarikan
-
Cari - Mencaikan

Contoh (v) adalah kata ulang progresif dengan arti ‘beneaktif’, sedangkan contoh (va). Adalah kata ulang regresif dengan arti ‘saling’.

(vi)
 Keibuan
-
Keibu-ibuan
(via)
Barat
-
Kebarat-baratan

Kata ulang contoh (vi) dibentuk dari dasar nomina konfiks ke- an, sedangkan kata ulang contoh (via) dibentuk secara langsung dari dasar kata dasar dengan konfiks ke- an, bukan dari dasar nomina konfiks ke- an (*kebaratan/ *kebelandaan/*kearaban).

(vii)
Tanaman
-
Tanam-tanaman
(viia)
Buah
-
Buah-buahan
(viib)
Buah
-
Bebuahan

Kata ulang contoh (vii) dibentuk dari dasar nomina –an, sedangkan kata ulang contoh (viia) di bentuk langsung dari dasar kata dasar dengan akhiran –an (dwilingga + -an). Kata ulang contoh (viib) di bentuk secara langsung dari dasar kata dasar dengan ulang suku awal (dwipura) di sertai akhiran –an. Bentuk ulang jenis (viib)  (dwipura + -an) bersinonim dengan bentuk ulang jenis (viia).
Dalam bahasa Indonesia bentuk dwipura + -an tidak/belum produktif. Beranalogikan (viib) dapat dimunculkan bentuk dwipura + -an sebagai berikut (reka cipta)

Bunga-bungaan
-
Bebungaan
Biji-bijian
-
Bebijian
Sayur-sayuran
-
Sesayuran
Tanam-tanaman
-
Tetanaman

Pemunculan bentuk dwipura + -an diatas dimaksudkan untuk menciptakan bentuk ulang yang praktis.

Catatan:
            Perhatikanlah penggunaan bentuk dwilingga + -an dan dwipura + -an berikut ini!
(a)    i. Di tamannya di Tanami 

Kata ulang bunga-bungaan bermakna dua macam, yakni (1) ‘berbagai macam bunga’ dan (2) ‘bunga  tiruan’, sedangkan kata ulang bebungaan ‘berbagai macam bunga’. Dengan makna di atas, pemakaian bunga-bungaan dan bebuangaan pada kalimat (i) dapat saling menggatikan dengan makna ‘berbagai’ macam bunga’. Pada kalimat (ii) kata ulang bebungaan tidak dapat digunakan sebab makna bunga-bungaan pada kalimat (ii) adalah ‘bunga tiruan’, sedangkan bebungaan adalah bunga sungguhan’
Contoh lain :
3.2 Makna Kata Ulang
      (1).   ’banyak’
                       (1). Murid-murid dan guru-guru itu sedangkan melaksanakan upacara bendera
                        (2).    ‘berbagai jenis’
                                  1. Di pasar sayur dan pasar buah dijual sayur-sayuran dan buah-buahan.
                        (3).    ‘kemiripan cara’/’peniruan’
                                  1.  Masih ada orang Indonesia yang kebelanda-belandaan
                        (4).    ‘kemiripan rupa’/’tiruan’
                                  1.  Di toko mainan di jual mobil-mobilan,kapal-kapalan
                                       dan kereta api-kereta apian.
            Perhatikanlah kalimat berikut.
            Anak-anak itu sedang asyik bermain mobil-mobilan.
Pada kalimat di atas bermain mobil-mobilan dapat bermakna dua macam, yaitu (1) ‘bermain menirukan seseorang yang sedang mengendarai mobil’ dan (2) ‘bermain mainan’).
(5).  ‘berulang – ulangan /terus – menerus
         1. Karena marah, dia memukul-mukul meja.
(6).  ‘saling’/’berbalasan’
          1. Kedua anak yang berkelahi itu pukul-memukul dan tendang-menendang.
















BAB IV
KATA MAJEMUK

1.      Pendahuluan
Menurut sejarah kata – kata majemuk itu pada mulanya merupakan urutan kata yang bersifat sintaksis. Dalam urutannya yang bersifat sintaksis tadi, tiap – tiap bentuk mengandung arti yang sepenuhnya sebagai sebuah kata. Tetapi lamban laun karena sering dipakai, hubungan sintaksis itu menjadi beku, dan sejalan dengan gerak pembekuan tersebut, bidang arti yang didukung tiap – tiap bentuk juga lenyap dan terciptalah bidang arti baru yang didukung bersama.
Dalam proses ini tidak semua urutan itu telah sampai kepada taraf terakhir. Ada urutan kata yang masih dalam gerak ke arah pembekuan, ada yang sudah sampai kepada pembekuan itu Yang masih dalam gerak itu dapat disebabkan karena gabungan itu memang sifatnya sangat longgar atau karena istilah tersebut baru saja tercipta.
Membahas pemajemukan atau kata majemuk berarti kita dapat mengetahui kemungkinan yang menjadi struktur elemen pembentuk kata majemuk tersebut beserta fungsinya masing – masing. Menurut tipe konstruksinya kata majemuk dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu : kata majemuk setara dan kata majemuk tidak setara, sedangkan menurut sifatnya, kata majemuk terbagi atas kata majemuk eksosentris dan endosentris.

2.      Pengertian
2.1.Kata majemuk adalah kata jadian yang terbentuk dari penggabungan dua kata atau lebih menjadi satu kata baru yang mengandung makna baru (Djoko saryono),
2.2.Pemajemukan adalah proses pembentukan kata melalui  penggabungan dua buah kata yang menimbulkan suatu kata baru (M. Ramlan, 1995)
2.3.Pemajemukan adalah proses pembentukan suatu konstruksi melalui penggabungan dua morfem/kata atau lebih (Samsuri, 1978).
2.4.Pemajemukan adalah proses pembentukan kata melalui penggabungan morfem dasar yang hasil keseluruhannya berstatus sebagai kata yang mempunyai pola fonologis, gramatikal, dan semantik yang khusus menurut kaidah bahasa yang bukan pemajemukan (Harimurti kridalaksana, 1982)

3.      Unsur – Unsur kata majemuk
Bentuk dasar yang digabungkan dapat berupa : 1. Pradasar, dan 2. Kata Dasar.
                    Dasar
Dasar
Pradasar
Kata Dasar
Pradasar
(1)   +
(2)   +
Kata Dasar
(3)   +
(4)   +
Proses penggabungan kedua bentuk dasar tersebut tampak pada bagan berikut :

Dengan menggabungkan (+) dua jenis bentuk dasar dapat dihasilkan kata majemuk yang unsur – unsurnya terdiri atas (1) pradasar + pradasar, (2) Pradasar + Kata dasar, (3) kata dasar + pradasar dan (4) kata dasar +Kata dasar.

Kata Majemuk
Kategori
(1)    Cetak ulang
Jual beli
(2)    Cacah jiwa
Jumpa pers
(3)   Ahli pijat
Salah baca
(4)   Jatuh miskin
Jatuh bangun
Suami istri
Orang tua
Panjang lebar
Verba + verba
Verba + verba
Verba + Nomina
Verba + nomina
Nomina + Verba
Adjektiva + verba
Verba + adjektiva
Verba + verba
Nomina + nomina
Nomina + adjektiva
Adjektiva + adjektiva

Kata majemuk yang dicontohkan di atas, kategori bentuk dasarnya berupa verba pradasar : jual/beli/jumpa dan kata dasar : bangun/makan/pohon, nomina, dan adjektiva. Ketiga kategori tersebut dalam proses pembentukan kata majemuk tampak produktif. Masing-masing bersifat terbuka dan memiliki daya gabung yang tinggi.
     Kategori lainnya, yakni (1) pronomina, (2) numeralia, (3) adverbia, dan (4) kata tugas dalam proses pembentukan kata majemuk tampak tidak produktif.
Contoh :
(1)   Pronomina Majemuk :
Apabila (pronomina + pronomina)
Bilamana (pronomina + pronomina)
Bagaimana (nomina + pronomina)
Manakala (pronomina + nomina)
Contoh kalimat :
a.        i. Apabila ayahmu berangkat menunaikan ibadah haji?
ii. Apabila diundangnya, saya berusaha hadir pada pertemuan itu?
b.       i. Bilamana kemerdekaan Indonesia diproklamasikan?
ii. Bilamana senja tiba bapak tani pulang sambil menggiring kerbaunya.
Pada contoh a,b dan c, apabila, bilamana, dan bagaimana dapat digunakan sebagai pronomina penanya dan sebagai konjungsi dalam kalimat majemuk bertingkat. Kata manakala biasanya memang digunakan dalam kalimat majemuk bertingkat, dan jarang digunakan dalam kalimat tanya.
(2)   Numeralia majemuk:
Tiga belas (numeralia + Numeralia)
Empat mata (numeralia + nomina)
Limma waktu (numeralia + nomina)
Tujuh keliling (numeralia + numeralia)
Contoh kalimat :
a.       Sungguh celaka tiga belas, sepeda pinjaman dicuri orang
b.      Kedua Presiden itu sedang mengadakan pertemuan empat mata.

(3)   Adverbia majemuk :
Amat sangat (adverbia + adverbia)
Hanya saja (adverbia + adverbia)
Hampir selalu (adverbia + adverbia)
Lagi pula (adverbia + adverbia)

Contoh kalimat :
a.       Kekalahan kesebalasan indonesia atas Bahrain 0-10 memang amat sangat memalukan.
b.      Pak Budi guru yang sangat amat baik lagi pula jujur dan berdisiplin.

(4)   Kata tugas majemuk :
Daripada (preposisi + preposisi)
Oleh karena (preposisi + konjungsi)
Sampai dengan (preposisi + preposisi)
Selain dari (konjungsi + preposisi)
Contoh kalimat :
a.       Jakarta memang lebih ramai daripada Surabaya.
b.      Dia dipilih menjadi Lurah oleh karena kejujurannya.

4.      Ciri – ciri Kata Majemuk
a.       Kedua unsurnya menunjuk/membentuk / menimbul-kan pengertian baru.
Contoh : Matahari: gumpalan gas raksasa yang pijar
Satu benda satu pengertian.
Kapal terbang: pesawat yang dapat terbang
Satu benda satu pengertian
b.      Hubungan antara kedua unsurnya sangat erat dan rapat sehingga tidak dapat dipertukarkan atau bolak-balik.
Contoh:

Bentuk majemuk
Tidak dapat dijadikan
Panjang tangan
Laki bini
Mata sapi
Kamar mandi
Tinggi hati
Sapu tangan
Anak angkat
Tanggung jawab
Tangan panjang
Bini laki
Sapi mata
Mandi kamar
Hati tinggi
Tangan sapu
Angkat anak
Jawab tanggung
Contoh: panjang tangan : suka mencuri
Tangan panjang : tangan yang (memang) panjang

c.       Hubungan kedua unsure sangat rapat dan erat sehingga diantara keduanya tidak dapat disisipi unsure lain.
Contoh :
-          Mata sapi sebagai bentuk majemuk berbeda pengertiannya dengan matanya sapi , mata dan sapi, mata dari sapi, dan sebagainya.
-          Meja hijau bukanmeja yang hijau
-          Jago merah bukan jago yang merah
-          Mata kakibukan mata dan kaki

d.      Hubungan antara kedua unsur sangat rapat dan erat sehingga jika diberi afiks harus kena pada seluruh kata dan tidak boleh disisipkan diantara kedua unsur
Contoh :
-          Dipertanggungjawabkan bukan dipertanggungkan jawab
-          Ibu bapaknya bukan ibunya bapak

5.      Macam – macam kata majemuk.
Berdasarkan hubungan unsur-unsurnya, kata majemuk dapat dibedakan atas dua macam, yakni 1. Kata majemuk setara dan 2. Kata majemuk bertingkat. Perbedaan kedua macam kata majemuk tersebut adalah sebagai berikut :
Kata Majemuk
Setara
Bertingkat
(i)       Kedua unsurnya memiliki kedudukan yang sama.
(ii)     Kedua unsurnya sama – sama merupakan INTI.
Kedua unsurnya memiliki kedudukan yang TIDAK SAMA,
Salah satu unsurnya merupakan INTI, sedangkan lainnya menjadi PEWATAS.
Contoh :
Setara                                                  Bertingkat
Anak cucu                                           anak asuh
Ibu bapak                                            ibu negara
Dunia akhirat                                      dunia anak-anak

Hubungan SETARA itu menjadi jelas jika kata majemuk itu diparafrasekan sebagai berikut:
Anak cucu       -           anak DAN cucu
Ibu bapak        -           ibu DAN Bapak
Dunia akhirat  -           dunia DAN akhirat

Hubungan kedua unsur kata majemuk setara bersifat koordinatif.
            Hubungan bertingkat itu menjadi jelas jika kata majemuk itu diparafrasekan sebagai berikut :
Anak asuh                   -           anak yang diasuh
Ibu negara                   -           ibu bagi negara
Dunia anak-anak         -           dunia bagi anak-anak
Hubungan kedua unsur kata majemuk bertingkat bersifat atributif.

Perlu dicatat bahwa kata majemuk setara itu kedua unsurnya harus berkategori sama.
Anak cucu                   -                       nomina + nomina
Ibu bapak                    -                       nomina + nomina
Dunia akhirat              -                       nomina + nomina
Berdasarkan kategori unsur-unsurnya kata majemuk diatas tergolong nomina majemuk setara.

Adapun kata majemuk bertingkat itu kedua unsurnya tidak harus berkategori sama. Kedua unsurnya dapat terdiri atas kategori yang berbeda.
Contoh :
-          Anak asuh                         :           nomina + verba
-          Meja hijau             :           nomina + adjektiva
-          Jam bicara             :           nomina + verba

kedua unsur kata majemuk itu ada yang bersinonim dan ada yang berantonim.
Cerdik pandai             -           ibu bapak
Cinta kasih                  -           jatuh bangun
Kasih sayang               -           maju mundur

Kata majemuk yang unsur-unsurnya bersinonim dan berantonim ini berpola urutan tetap.

Berdasarkan acuannya kata majemuk dibedakan menjadi 2 yaitu :
1.      Kata majemuk wajar/lugas.
Adalah kata majemuk yang bermakna sebenarnya yang sesuai dengan benda atau hal yang diacunya.
2.      Kata majemuk kiasan.
Adalah kata majemuk yang bermakna tidak sebenarnya yang tidak sesuai dengan benda atau hal yang diacunya.
Contoh :
Kata Majemuk Wajar
Kata Majemuk Kiasan
Bulan puasa
Besar kecil
Bunga delima
Bulan madu
Besar mulut
Bunga bangsa

Kata majemuk bermakna kiasan tergolong kata majemuk idiomatis.
Idiom dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
1.      Idiom penuh
Idiom yang maknanya benar-benar sudah menyatu, tidak dapat dijabarkan dari makna unsur pembentuknya.
2.      Idiom sebagian
Idiom yang memiliki unsur yang bermakna biasa dan khusus.

            Kata majemuk dapat dibedakan menjadi tiga macam berdasarkan unsurnya
a.       Kata majemuk asli
b.      Kata majemuk serapan
-          Kata majemuk serapan dari bahasa jawa
Contoh : adigang, adigung, adiguna
Maksudnya adalah menjelaskan sifat yang memperlihatkan kekuasaan,kekuatan,keluhuran,keturunan,kebangsawanan,dan kepandaiannya.
c.       Kata Majemuk hibrida.

6.      Makna kata Majemuk
Unsur kata majemuk memiliki hubngan makna tertentu.
Contoh :
(1)   Unsur I dan II ‘bersinonim’
Cantik molek              -           kasih sayang
Cerdik cendekia         -           muda belia
Fakir miskin               -           pahit getir
Cinta kasih                 -           nur cahaya
Urutan unsur I dan II bersifat tetap, tidak dapat diubah.

(2)   Unsur I dan II berantonim
Antar jemput              -           atas bawah
Jatuh bangun              -           besar kecil
Jual beli                      -           jauh dekat
Contoh kata majemuk berantonim tersebut diatas merupakan bentuk beku, urutannya tidak dapat diubah, misalnya antar jemput diubah menjadi jemput antar.

# Dalam bahasa indonesia dikenal dengan hukum DM, yakni kaidah tentang unsur-unsur dalam bahasa indonesia, baik dalam kata majemuk,frasa,maupun kalimat, segala sesuatu menerangkan M selalu terletak dibelakang yang diterangkan D.

# Hukum DM tidak dapat diterapkan pada kata majemuk setara sebab kedua unsur itu masing-masing merupakan inti.

# dalam bahasa indonesia ada konstruksi morfologis yang berupa proleksem + nomina/adjektiva/verba.
Contoh :         adibusana                    pancasila
                       Antarbangsa                pariwara
                       Antiperang                  pascabedah
Konstruksi morfologis yang gabungan antara bentuk terikat proleksem dan bentuk bebas nomina/adjektiva/verba diatas digolongkan kata majemuk meskipun tidak berupa gabungan kata dan kata. Tipe kata majemuk diatas berurutan MD.
Contoh :
Bumiputra      : negeri anak    -           anak negeri, penduduk asli
            Negeri berkedudukan sebagai M dan anak berkedudukan sebagai D.

# kata majemuk hibrida juga berurutan MD
Contoh :         tunaaksara = tidak dapat membaca dan menulis, buta huruf

# kata majemuk idiomatis terdiri atas unsur verba/adjektiva + nomina
Contoh :         naik darah       =          menjadi marah
                       Besar kepala    =          sombong
Kata majemuk idiomatis diatas benar-benar sudah berpadu dan dan memunculkan makna baru.
Rumusnya sebagai berikut : A + B = C (bukan AB)

Kata majemuk idiomatis tidak berurutan DM ataupun MD, sedangkan kata majemuk sebagian beurutan MD
Contoh :         naik pangkat/derajat    = pangkat atau derajatnya menjadi lebih tinggi.