BAB I
MORFOLOGI
Dalam tata bahasa mencakup dua cabang
ilmu bahasa yakni morfologi dan sintaksis. Morfologi adalah tata bahasa yang
membahas seluk beluk morfem dan kata, sedangkan sintaksis adalah tata bahasa yang
membahas seluk beluk kalimat. Sebagai satuan gramatikal, kedudukan morfen dan
kata sebagi berikut :
1. Wacana 5. Frasa
2. Paragraf 6. Kata
3. Kalimat 7. Morfem
4. Klausa 8. Fonem
Satuan-satuan gramatikal ini
merupakan tataran hierarki gramatikal. Dalam tataran gramatikal morfem adalah
satuan kecil yang bermakna atau satuan kecil dari kata. Kata merupakan satuan
terbesar dalam morfologi. Dan merupakan satuan terkecil dalam sintaksis. Contoh
: dalam morfologi kata berbaju dapat
dibagi menjadi dua unsur yaitu ber- dan
baju. Dalam kalimat ini ber merupakan
satuan terkecil yang tidak dapat dibagi menjadi lebih kecil. Dan begitu juga
dengan kata baju tidak dapat dibagi menjadi lebih kecil. Dalam morfologi kata ber- dan baju disebut sebagai morfem. ber-
disebut sebagai morfem bebas sedangkan bentuk baju disebut morfem terikat. Dari data diatas ternyata morfem dapat
berupa kata (baju) dan dapat berupa
imbuhan (ber-). Dilihat dari segi
kategorinya, morfem terikat ber-
tidak berkategori, sedangkan morfem bebas (kata) baju berkategori yakni nomina; sedangkan kata berbaju berkategori
verba. Dari segi maknanya, morfem ber- bermakna gramatikal dan kata baju
bermakna leksikal. Makna leksikal adalah makna kata yang masih berdiri
sendiri., tidak hubungan dengan satuan yang lain, sedangkan makna gramatikal
adalah makna baru yang muncul akibat proses gramatikal, baik proses morfologis
maupun proses sintaksis. Makna gramatikal verbal baju adalah memakai baju. Dari
uraian diatas satuan morfem dan kata dapat dituliskan secara singkat sebagai
berikut:
|
No
|
Morfem
|
Kata
|
|
1.
|
Satuan terkecil dalam
morfologi, bukan satuan terkecil dari sintaksis;
|
Satuan terkecil dalam
sintaksis tetapi satuan terbesar dalam morfologi;
|
|
2.
|
Tidak berkategori
|
Berkategori (dapat
berubah akibat proses morfologis);
|
|
3.
|
Bermakna gramatikal
|
Bermakna leksikal
(dapat bermakna gramatikal akibat proses morfologis yaitu proses sintaksis);
|
|
4.
|
Bentuk terikat
|
Bentuk bebas
|
|
5.
|
Unsur pembentuk kata
baru
|
Bentuk dasar yang
berbentuk
|
Selain bentuk terikat seperti ber-,
ter-dan ke- dalam bahasa indonesia juga terdapat bentuk terikat yang mirip
dengan morfem imbuhan seperti : 1. pita ini kugunting; 2. ini guntingku. Bentuk
terikat ku- dan juga ku- yang melekat pada kata gunting disebut klitika.
Klitika adalah bentuk terikat yang (1) tidak pernah berdiri sendiri karena
terikat pada bentuk bebas (gunting), (2) jelas katagorinya (pronomina) dan (3)
mempunyai padanan dengan bentuk yang utuh (aku). Klitika ada dua macam yaitu
ploklitika dan enklitika. Ploklitika adalah klitika yang terikat dengan kata
yang mengikutinya sedangkan enklitika adalah klitika yang terikat dengan kata
yang mendahuluinya. Berikut perbedaan ploklitika dan enklitika
|
No
|
Proklitika ku-
|
Enklitika ku-
|
|
1.
|
dapat dipakai untuk
membentuk verba pasif;
|
Dipakai dalam
konstruksi pemilikan;
|
|
2.
|
Dapat diganti dengan
bentuk utuhnya; - - - aku gunting;
|
Tidak lazim digunakan
bentuk utuhnya : *gunting aku;
|
|
3.
|
Dapat mengubah
kategori kata yang yang dilekatinya menjadi verba pasif
|
Tidak dapa mengubah
kategori kata yang dilekatinya, tetap berkategori nomina;
|
Sejalan
dengan ploklitika ku-, ploklitika kau- juga dapat
dipakai untuk membentuk verba pasif dan dapat diganti dengan bentuk utuhnya. Enklitika –mu dipakai dalam konstruksi
pemilikan, tidak dapat mengubah kategori kata yang dilekatinya, dapat diganti
dengan betuk utuhnya. Seperti contoh berikut.
- Pita ininjangan engkau gunting
- Ini bukan gunting kamu
Catatan
: dalam nada (ragam) puitis klitika ku- dan kau- dipakai sebagai bentuk bebas.
Bentuk klitika selanjutnya adalah
enklitika –nya. Enklitika –nya dipakai untuk menyatakan milik dan
dapat diganti dengan pronomina dia, bukan
ia. Enklitika –nya dapat berfungsi sebagai objek,pelengkap, dan pelengkap
pelaku.Contoh : 1. Bu Rini membelikannya
baju baru. 2. Bu Rini membeli baju baru untuknya. Enklitikanya dapat mengubah kategori verba menjadi nomina
(nomina deverbal). Contoh : 1. Berangkatnya
kapan ?. 2. Terbunuhnya teroris itu
membuat penduduk desa ini tenang.
Dalam bahasa indonesia terdapat bentuk ploklitika yang berkategori
numeralia, seperti contoh berikut :
1. Ekaprasetia (‘satu)
2. Dwiwarna (‘dua)
3. Tridarma (‘tiga’)
Bentuk enkltika –kah,
-lah, -tah, dan –pun disebut partikel penegas. Partikel penegas itu tidak
mengubah kategori kata yanng dilekatinya jadi, tidak dapat membentuk kata baru.
Imbuhan, klitika, proleksem, dan partikel penegas, semuanya tergolong bentuk
terikat secara morfologis. Proses morfologis dapat menyebabkan perubahan bentuk
imbuhan yang bergabung dengan bentuk
dasar dan juga perubahan fonem awal atau
akhir bentuk dasar yang digabungi
imbuhan itu. Hal itu dibicarakan dalam morfonemik.
2.1 Morfonemik
Morfenemik adalah perubahan fonem
yang terjadi akibat proses morfologis. Awalan me-, ber-, dan ter- dapat
mengalami perubahan bentuk sebagai berikut.
Verba Nomina
verba
seperti memproduksi jika diturunkan menjadi nomina, konsonan /p/ pada awal
bentuk dasar itu diluluhkan. Hal tersebut dimaksudkan untuk mempermudahkan
pengucapan.
Awalan me- berubah bentuk menjadi
men- jika bergabung dengan bentuk dasar yang berawal dengan konsonan /d/ dan
/t/. Pada proses ini terjadi dua perubahan, yakni (1) permunculan fonem /m/ dan
(2) peluluhan fonem /t/ menjadi /n/. Konsonan /t/ pada gugus konsonan /tr/
tidak luluh. Contoh :
Awalan me- berubah bentuknya menjadi
meny- jika bergabung dengan bentu dasar yang berawal dengan konsonan /s/, /z/,
/c/, /sy/, dan /j/. Pada proses ini terjadi dua perubahan, yakni (1) pemunculan
fonem /ñ/ (ny) dan (2) peluluhan fonem /s/ menjadi ny. Konsonan /s/ yang
mengawali kata-kata asli bahasa indonesia harus diluluhkan menjadi ny jiika
mendapat awalan me-. Contoh ;
Catatan : Nasalisasi
(proses mengubah atau memunculkan nasal pada fonem) itu terjadi atas dasar homorgan. Konsonan /s/yang mengawali
kata-kata asli bahasa indonesia harus diluluhkan menjadi ny jika mendapat awalan me-.
Contohnya :
Awalan me- berubah bentuknya menjadi
meng- jika bergabung dengan bentuk dasar yang berawal dengan vokal /a/, /i/,
/u/, /e/, /É™/, /o/, konsonan /g/, /h/, /k/, dan /kh/. Pada proses ini terjadi
dua perubahan yakni (1) pemunculan fonem /Å‹/ (ng) dan (2) peluluhan konsonan
/k/ menjadi ng. Konsonan /k/ pada gugus konsonan /kl/ dan /kr/ tidak luluh
menjadi ng. Contoh ;
Konsonan /k/ pada kata-kata asli
bahasa indonesia harus luluh menjadi ng. Contoh :
awalan me- akan berubah menjadi meng-
jika bergabung dengan bentuk dasaryang terdiri atas satu suku kata. Contohnya :
mengebom, mengegas. Bentuk aktif seperti mengebom, bentuk pasifnya adalah
dibom, bukan diebom. Jadi, awalan di- secara langsung dapat bergabung dengan
bentuk dasar yang terdiri atas satu suku.
·
Awalan
ber- berubah bentuknya menjadi be- jika bergabung dengan bentuk dasar yang
berawalan dengan fonem /r/. Jadi, fonem /r/ pada awalan ber- itu dihilangkan
seperti.
·
Awalan
ber- berubah bentuknya menjadi be- jika bergabung dengan bentuk dasar yang suku
pertamanya berakhir dengan /ər/. Seperti kata berkerja menjadi bekerja terjadi
peristiwa disimilasi, yakni perubahan dua fonem yang sama menjadi tidak sama.
Dalam pemakaian sehari-hari terdapat verba dengan be- (baku).
·
Awalan
be- tidak berubah bentuknya menjadi be- karena suku pertama bentuk dasar yang
digabungi berakhir dengan /ar/,/ ir/, /ur/, /er/, dan /or, bukan /ər/.
·
Awalan
ber- berubah bentuknya menjadi bel jika bergabung dengan bentuk dasar ajar dan
unjur (terbatas pada dua kata ini).
·
Awalan
ter- berubah bentuknya menjadi te- jika bergabung dengan bentuk dasar yang
berawal dengan fonem /r/. Jadi fonem /r/ pada awal ter- itu dihilangkan
(Ø).contohnya seperti kata
·
Awalan
ter- berubah bentuknya jika bergabung dengan bentuk dasar yang suku pertamanya
berakhir dengan /ər/. Contoh : terpercik menjadi tepercik terjadi peristiwa disimilasi.
·
Awalan
ter- tidak berubah bentuknya menjadi te- karena suku pertama bentuk dasar yang
digabungi berakhir dengan /ar/, /ir/, /ur/, dan /or/, bukan /ər/.
Awalan
di- bebas dari kaidah morfofonemik untuk awalan me-, ber-, dan ter-. Jadi,
bergabung dengan bentuk dasar apa pun, bentuknya tidak berubah (pangekalan
awalan di-).
Akhiran
–kan bergabung dengan bentuk dasar apa pun tidak berubah betuknya. Akhiran –kan
sering dikicaukan dengan akhiran –an. Contohnya seperti :
I II
keterangan
: -bentuk (I) nomina
-bentuk (II) verba-perintah
Bentuk
seperti samakan, tarikan atau bentuk dasar yang berakhiran huruf vokal (/a,i,u/)
mendapatkan akhiran –kan (i); dan dapat juga terjadi dari bentuk dasar yang
berakhiran dengan konsonan /k/ mendapatkan akhiran –an (ii). Bentuk (i)
verba-perintah, sedangkan bentuk (ii) adalah nomina.
Akhiran
–i bergabung dengan bentuk dasar apa pun tidak berubah bentuknya. Pada contoh
dibawah ini akhiran –i dapat diganti
dengan akhiran –kan.
i. Rini gelas-gelas itu dengan air teh.
Mengisi (O)
ii. Rini
mengisikan air teh ke dalam gelas-gelas itu
pada
akhikran –i tidak digunakan dan tidak diganti dengan akhiran –kan. Jika akhiran
–kan itu digunakan, harus ada perubahan fungsi objeknya (gelas-gelas air teh).
Contoh lain : pesantren terbentuk dari
pe- + santri + -an. Bunyi /e/ muncu akibat luluhnya fonem /i/ pada akhir bentuk
dasar (santri) dan fonem /a/ pada awal akhiran –an (bagian dari konfiks pe –an)
Contoh-contoh
diatas diserap secara langsung dan utuuh (adopsi) dari bahasa jawa ( Kamus
Besar Bhasa Indonesia; Edisi II, 1991: 426: 483: 762).
Masih
berkaitan dengan ihwal morfofonemik, perlu diperhatikan pemunculan konsonan /n/
pada kata-kata berikut.
Bandingkan dengan
Konsonan
/n/ muncul jika bentuk dasarnya
berakhir dengan vokal (contoh (25)).
Dan tidak muncul jika bentuk dasarnya berakhir dengan konsonan (contoh 25a)).
Kebalikan
dari pemunculan adalah pelepasan,
seperti yang tampak pada contoh berikut ini.
Bandingkan dengan
Akhiran –wanmemang
lazimnya bergabung dengan bentuk dasra yang berakhiran dengan vokal. Jika
bentuk dasar yang digabungi akhiran –wan itu
berakhir dengan konsonan, konsonan akhir tersebut mengalami pelepasan (contoh (26)).
Konsonan /k/ pada akhir bentuk dasar mengalami
pelepasan jika digabungi akhiran –nda.
Pelepasan konsonan /k/ dimaksudkan
untuk memperlancar pengucapan.
Bandingkan dengan
Bentuk
dasar yang berakhiran dengan vokal (a, u, i) tidak berubah bentuknya.
2.2 Morfosintaksis
Sebagimana telah kita ketahui, bahwa
tata bahasa itu mencakupi morfologi dan sintaksis. Cabang ilmu bahasa yang
membahas kedua bidang itu disebut morfosintaksis. Proses morfologis dapat
mengubah struktur kalimat. Sebaliknya proses sintaksis dapat mengubah bentuk
verba predikat.
Contoh
1 :
(28) i. Ayah
pergi ke toko.
ii. Ayah
membeli baju untuk adik.
iii. Ayah
membelikan adik baju
Bentuk dan jenis verba predikat
dapat menentukan kehadiran konstituen kalimat. Verba predikat pergi mesyartkan satu konstituen saja,
yaitu ayah berfungsi sebagi subjek.
Verba predikat membeli mensyartkan
dua konstituante, yakni ayah sebagi subjek dan baju sebgai objek;
sedangkan konstituen untuk adik
bersifat manasuka. Artinya, kalimat (ii) tetap gramatikal jika tanpa konstituen
untuk adik.
Contoh
2 :
(29) a. Tono
sudah membaca buku ini.
b. i. Buku ini sudah dibaca Tono.
ii. Buku ini sudah Tono
baca.
iii* Buku ini, Tono sudah membaca.
iv. Buku ini, Tono sudah membacanya(kalimat
dislokasi kiri).
Dipindahkannya objek (buku ini) ke posisi awal kalimat
mewajibkan bentuk verba predikat aktif membaca
diubah menjadi bentuk verba pasif di-, yakni dibaca. Pola bentuk pasif (ii) terbatas pada pemakian sehari-hari.
Pola bentuk aktif (iii) tidak berterima enklitika –nya. Kalimat dislokasi kiri adalah kalimat ubahan drai kalimat
dasar dengan mengedepankan objek (surat
itu) dan tempat semula diisi oleh pronomina
–nya.
Dalam kalimat perintah transitif
awalan me- harus dilesapkan : dan jika dipertahankan, kalimat perintah itu
tidak berterima (i). Dalam kalimat larangan baik verba membaca maupun baca
boleh digunakan (iii).
Contoh
:
a. i. Dia
mengejar saya.
ii. Saya mengejar
dia.
b. *
saya berkejaran
* dia
anak-anak itu
pada contoh diatas terdapat keserasian antara subjek dan
predikatnya. Verba mengejar dipakai untuk subjek tunggal; verba kejar-mengejar
/saling mengejar untuksubjek ganda;
sedangkan verba berkejaranuntuk
subjek jamak. Jadi, bentuk dan jenis verba dapat menentukan jumlah subjek.
Contoh diatas memperlihatkan perilaku sintaksis verba dalam bahasa indonesia.
Contoh berikut memperlihatkan keserasian antara, predikat, dan objek jamak., antar objek jamak dan verba keterangan objek.
d. 
Saya
Dia mengambili
kertas-kertas yang berserakan di
lantai
Mereka itu.
2.4 Proses Morfologis
Kata bentukan/turunan dapat terjadi
dengan dua cara, yakni (1) langsung dan (2) tak langsung. Proses yang langsung
disebut pembentukan, sedangkan yang tak langsung disebut penurunan. Untuk lebih
jelasnya mari kita perhatikan bentuk-bentuk kata pada gambar berikut .


Ajar
(1)

mengajar
belajar
(2)
Pengajar pelajar
(1)
Verba mengajar dan juga belajar “dibentuk” secara
langsung dari pradasar verba ajar, masing-masing dengan awalan me- dan ber- .
(2)
Nomina pengajar dan pelajar masing-masing diturunkan
dari verba mengajar dan belajar “dibentuk” tidak secara langsung (--) dari
dasar ajar, tetapi harus melalui verba mengajar dan belajar yang merupakan
bentuk antaran .
Dalam bahasa
indonesia terdapat nomina berawalan pe-, seperti pemarah, pemalas, dan pelupa.
Jika dilihat dari makna gramatikalnya, kata-kata itu terbentuk langsung dari
dasra marah,malas, dan lupa. Tidak diturunkan dari verba “bermarah” memarah
“bermalas”/*memalas, dan *berlupa/*melupa. Jadi, nomina-nomina tersebut tidak
memiliki verba sebagai sumber penurunannya. Seccra tidak langsungatau langsung
kata bentukan dapat terjadi secara bertahap. Seperti contoh berikut
|
Dasar
|
Tahap I
|
Tahap II
|
|
Rata
|
Merata
|
Memeratakan;
kemerataan
|
|
Sama
|
Bersama
|
Membersamakan;
kebersamaan
|
|
Libat
|
Terlibat
|
Menerlibatkan;
keterlibatan
|
Dari uraian diatas
dapat dinyatakan bahwa proses morfologis adalah proses terjadinya kata bentukan
dari bentuk dasar atau proses terjadinya kata turunan dari sumber penurunan.
Ciri-ciri Proses Morfologis.
Proses
morfologis dapata menimbulkan perubahan tentang (1) bentuk, (2) kategori, (3)
makna.
|
Dasar
|
Bentuk
|
Makna
|
|
Besar (a)
Duduk (v)
a = adjektiva
b = nomina
v = verba
|
Membesar (v)
Membesarkan
(v)
Memperbesar
(v)
Terbesar (a)
Pembesar (n)
Pembesaran (n)
Kebesaran
(n)/(a)
Menduduki (v)
Terduduk (v)
Penduduk (v)
Kedudukan (n)
Beranak (v)
Memperanakkan
(v)
Kekanak-kanakan
|
‘menjadi
besar’
‘menjadikan
besar’
‘menjadikan
lebih besar’
‘paling besar’
‘orang yang
berpangkat tinggi’
‘cara
membesarkan’
‘hal/keadaan
besar’
‘terlalu
besar’
‘duduk di’
‘tidak
disengaja’
‘orang yang
mendiami suatu tempat’
‘tempat kediaman’
‘tingkat/pangkat’
‘melahirkan
anak; mempunyai anak’
‘menganggap
sebagai anak senndiri’
‘bertingkah
laku seperti anak’
|
Macam-macam Proses Morfologis
Proses
morfologis dapat dibedakan atas tiga macam, yakni pengimbuhan, pengulangan, dan
pemajemukan.
1.
Pengimbuhan adalah proses pembentukan kata dengan
menambahkan imbuhan pada bentuk dasar. Imbuhan adalah bentuk terikat yang
ditambahkan pada bentuk dasar untuk membentuk
kata jadian. Bentuk dasra adalah bentuk bahasa yang dipakai menjadi dasar
dalam proses pembentukan kata jadian.
2.
Pengulangan adalah proses pembentukan kata dengan
mengulang bentuk dasar, baik secara utuh maupun sebagian. Hasil pengulangan
disebut kata ulang. Untuk membentuk kata ulang dari bentuk dasar dipakai morfem
ulang yang terdiri atas (1) morfem ulang utuh, (2) morfem ulang sebagian (3)
morfem ulang saling suara dan (4) morfem ulang yang disertai imbuhan. Keempat
morfem ulang itug-masing memiliki daya ulang , yakni kemampuan untuk mengulang
bentuk dasar menjadi kata ulang.
3.
Pemajemukan adalah proses pembentukan kata dengan
menggabungkan dua bentuk dasar atau lebih menjadi satu kata baru. Bentuk dasar
yang digabungkan dapat berupa pradsar dan kata dasar.
BAB II
KATA BERIMBUHAN
A. Pengertian Kata Berimbuhan
Kata berimbuhan adalah
kata – kata dasar yang mendapatkan imbuhan yang berupa awalan, akhiran,
sisipan, dan awalan – akhiran. Imbuhan sendiri berfungsi untuk menambahkan arti
atau maksud dari kata – kata dasar yang diberi imbuhan tersebut.
Dalam Bahasa Indonesia
ada empat macam imbuhan, yaitu : awalan (prefiks), sisipan (infiks), akhiran
(sufiks), dan awalan – akhiran (konfiks).
1) Awalan (Prefiks)
Prefiks adalah imbuhan – imbuhan yang
diletakkan pada awal kata dasar. Contoh : me-, ber-, ke-, di-, pe-, dan ter-.
Contoh : ber- + main = bermain
2) Sisipan (Infiks)
Sisipan adalah imbuhan yang diletakkan
di tengah – tengah kata dasar. Bentuknya antara lain –el, -em, dan –er. Contoh
: -em- + getar = gemetar
3) Akhiran (Sufiks)
Sufiks adalah imbuhan yang diletakkan
pada akhir kata dasar. Bentuk akhiran diantaranya adalah –kan, -i, -an, -kah,
-tah, dan –pun. Contoh : dengar + kan = dengarkan
4) Awalan – akhiran (Konfiks)
Konfiks adalah imbuhan yang diletakkan
pada bagian awal dan akhir kata. Imbuhan konfiks diantaranya : me-kan, pe-an,
ber-an, dan se-nya. Contoh : pada kata mengirimkan, memantulkan.
B. Identifikasi Bentuk Dasar
Dari bentuk dasar dapat
kita identifikasi tentang kategori dan komponen maknanya (fitur
semantis).
C. Identifikasi Segi Imbuhan
Dari segi imbuhan dapat
kita identifikasi tentang fungsi dan makna gramatikalnya. Sebagai contoh kita
gunakan kata bersepedah dalam kalimat.
‘Setiap hari Minggu
saya bersepedah ke luar kota’
Bentuk dasar sepeda berkategori
nomina dan berkomponen makna [+ kendaraan], sedangkan awalan ber- berfungsi
membentuk verba dan bermakna gramatikal ‘naik / mengendarai’.
2.1 Awalan me-
a. Fungsi : membentuk verba (1) aktif
tak transitif dan (2) aktif
transitif.
Verba aktif tak transitif tidak dapat
dipasifkan, sedangkan verba transitif dapat dipasifkan. Contoh : batu (dasar) →
membantu (verba)
b. Makna
5)
‘melakukan
tindakan dengan alat …’
Contoh : memancing
6)
‘membuat’
Contoh : menumis, menggulai
7)
‘mencari
/ mengumpulkan’
Contoh : merumput
8)
‘hidup
sebagai’
Contoh : menduda
9)
‘berlaku
seperti’
Contoh : membabi buta
10) ‘menjadi seperti’
Contoh : menyemut
11) ‘menjadi’
Contoh : mengarang
12) ‘menuju ke … ‘
Contoh : mendarat
13) ‘mengeluarkan suara’
Contoh : mengeong
14) ‘menjadi’
Contoh : memutih, menguning
15) ‘menimbulkan kesan seperti orang yang …
‘
Contoh : membisu, mengalah
16) ‘menjadi’
Contoh : menyatu, mendua
17) ‘memperingati’
Contoh : menyeribu hari
18) ‘mengatakan’
Contoh : mengaku
2.2 Awalan di-
a. Fungsi : membentuk verba pasif
Bentuk pasif di- merupakan ubahan
dari verba transitif berawalan me-. Contoh : membaca (aktif me-) →
dibaca (pasif di-)
2.3 Awalan ter-
a. Fungsi : membentuk verba
pasif. Bentuk dasar yang digabungi awalan ter- umumnya berupa 1) verba
dasar dan 2) verba pradasar.
b. Makna
1)
‘dapat
di …’
Contoh : tak terhitung, tak mungkin
terbalas
2)
‘tidak
disengaja’
Contoh : terbawa
3)
‘tiba
– tiba’
Contoh : tertidur, teringat
4)
‘telah
dilakukan’
Contoh : tercetak, terbayar
5)
‘orang
yang di-‘
Contoh : terdakwa, tertuduh, tersangka
6)
‘menyatakan
arah atau tempat’
Contoh : tertulang, terpojok
7)
‘Deponens’
Contoh : terbentur, terinjak
2.4 Konfiks ke-an
a. Fungsi : membentuk verba
pasif. Bentuk dasar yang digabungi konfiks ke-an dapat berupa 1) verba,
2) adjektiva, dan 3) nomina. Contoh : kedatangan (verba), kedinginan
(adjektiva), dan kebanjiran (nomina).
b. Makna
1)
‘dapat
di …’
Contoh : kelihatan, kedengaran
2)
‘terkena
/ menderita’
Contoh : kedinginan, kehausan
3)
‘tidak
disengaja’
Contoh : ketumpahan, kejatuhan
2.5
Awalan ber-
a. Fungsi : membentuk verba
aktif tak transitif. Contoh : ibu (dasar), beribu (verba).
b. Makna
1)
‘mempunyai’
Contoh : beranak, berilmu
2)
‘memakai’
Contoh : berbahasa, bercelana
3)
‘mengendarai / naik’
Contoh : berkuda, bersepeda
4)
‘memanggil
/ menyapa’
Contoh : beradik, berkakak
5)
‘menghasilkan’
Contoh : bertelur, beranak
6)
‘mengeluarkan
bunyi’
Contoh : berkokok
7)
‘melakukan
pekerjaan sebagai’
Contoh : berkedai
8)
‘berbalasan
/ saling’
Contoh : bertinju, berhantam
9)
‘perbuatan
terhadap diri sendiri’
Contoh : berdandan
10) ‘yang di-‘ (pasif)
Contoh : bersambut
11) ‘menjadi’
Contoh : bersatu
12) ‘bersama – sama’
Contoh : berdua, bertiga
13) ‘mata pencaharian’
Contoh : berjual, beternak
14) ‘dalam keadaan’
Contoh : bergembira, bersedih
15) ‘mengatakan / menyebut’
Contoh : beraku, berengkau
2.6
Konfiks ber-an
a. Fungsi : membentuk verba
aktif tak transitif. Dasar yang dibentuk dengan konfiks ber-an dapat
berkategori 1) verba dasar, 2) adjektiva, dan 3) nomina.
Contoh : datang → berdatangan
Jatuh → berjatuhan
b. Makna
1)
‘perbuatan
itu dilakukan oleh banyak pelaku’
Contoh : para tamu sudah berdatangan
2)
‘menyatakan
jumlah benda yang banyak
Contoh : saya mengambil kertas –
kertas yang berserakan di lantai.
3) ‘saling’
Contoh : bersentuhan, bersapaan
4)
‘menyatakan
proses yang berulang – ulang / berkali – kali’
Contoh : berlarian, berkejaran
5)
‘menyatakan
berelasi … satu sama lain’
Contoh : berjauhan, berseberangan
2.7
Gabungan imbuhan ber - kan
a. Fungsi : membentuk verba
tak transitif.
Contoh : istri (dasar) → beristri
(ber-)→ beristrikan (ber-kan)
b. Makna
1)
‘mempunyai’
Contoh : beristrikan
2)
‘memakai
sebagai’
Contoh : bersenjatakan
3) ‘sebagai pemanis’
Contoh : bertaburkan
2.8. Gabungan
imbuhan me-i
a. Fungsi:
Membentuk verba aktif transitif.
Dasar yang dibentuk imbuhan me-I dapat berkategori: verba dasar, verba pradasar, adjektiva,
nomina, numeralia, pronomina, adverbia.
Contoh: datang – mendatangi
Jatuh
–menjatuhi
b. Makna: 1. Pekerjaan itu dilakukan
berulang-ulang
contoh:
mereka melempari gedung itu dengan
batu
2. Memberi
Contoh:
Tuhan telah menganugerahi kita
kenikmatan dan kesehatan
3. Membubuhkan
Contoh:
Pak Lurah sudah menandatangani surat
itu
4. Membuang
Contoh:
Ibu sedang menyisiki ikan gurami
5. Menjadi sebagai
Contoh:
Saya akan menemani dia selama ayahnya
ke Jakarta
6. Berlaku seperti
Contoh: Kamu jangan suka menggurui orang tua
7. Melakukan dasar di/ke(lokatif)
Contoh:
Berhati-hatilah anda memasuki kawasan
terbatas
8. Menyebabkan, menjadikan (Kausatif)
Contoh:
Kata-kata kasar itulah yang melukai hati saya
2.9.
Gabungan imbuhan me-kan
a. Fungsi : membentuk verba aktif
transitif. Dasar yang dibentuk dengan imbuhan me-kan dapat berupa: verba dasar, verba pradasar, adjektiva, nomina, numeralia,
pronomina, adverba, preposisi gabungan.
Contoh: datang- mendatangkan
Makna:
1. melakukan pekerjaan untuk orang lain
2. membuat sesuatu menjadi
3. menjadikan atau menganggap obyek sebagai
4. membawa
5. membawa ke-
6. melakukan pekerjaan dengan alat
2.10. Gabungan imbuhan memper-
a. Fungsi: membentuk
verba transitif. Dasar yang dibentuk imbuhan memper- dapat berkategori: adjektiva, nomina, numeralia, preposisi
tertentu.
Contoh:
cepat-mempercepat
b. Makna:
1. membuat menjadi
2.
menjadikan
3. memperlakukan/menganggap sebagai
2.11. Gabungan imbuhan memper-i
a. Fungsi: membentuk
verba transitif. Dasar yang dibentuk dengan imbuhan memper-I dapat berupa: verba, adjektiva, nomina, numeralia.
Contoh: ajar-mempelajari
b. Makna:
1. membuat menjadi
2. memberi ber-
2.12. Gabungan imbuhan memper-kan
a. Fungsi: membentuk
verba transitif. Dasar yang dibentuk dengan imbuhan memper-kan dapat
berkategori: verba, nomina, numeralia, adjektiva tertentu dan preposisi
tertentu.
Contoh. Dengar-mendengarkan
b. Makna: 1. menjadikan ber-
2. membuat jadi
3. menjadikan obyek di-
2.13.
Awalan pe-
a. Bentuk: awalan pe- sejalan dengan
bentuk awalan me-. Contoh: melatih
pelatih
b. Fungsi: membentuk nomina melali
bentuk antara verba berawalan me-, me-I, me-kan
contoh: ajar-mengajar-pengajar
c. Makna: 1. Orang yang me-
2. orang yang berprofesi me-
3. Orang yang bersifat
4. sesuaatu yang di-
5. alat untuk me-
2.14. Awalan per-
a. Bentuk:bentuk awalan
per- sejalan dengan bentuk awalan ber-. Awalan per- memiliki alomorf per-, pe-,
dan pel-.
Contoh: bertapa-petapa
b. Fungsi: membentuk nomina melalui
bentuk antara verba berawalan ber-
c. Makna: 1. Pelaku yang ber-
2. pelaku yang di-
3. sesuatu yang di-
2.15 Konfiks pe-an
a.
Bentuk
Konfiks pe-an memiliki alomorf
1)
pe-an,
→ pelatihan
2)
pem-an,
→ pembinaan
3)
pen-an,
→ pendataan
4)
peny-an,
→ penyatuan
5)
peng-an,
→ pengukuran
6)
penge-an,
→pengeboman
b.
Fungsi
Membentuk nomina yang diturunkan dari
verba
1)
berawalan
me → mengajar menjadi pengajaran
2)
berimbuhan
me-i → menghormati menjadi penghormatan
3)
berimbuhan
me-kan → menyelaraskan menjadi penyelarasan
c.
Makna
1)
hasil
perbuatan → kata “pengamatan”
2)
hal
perbuatan → kata “pembangunan”
3)
cara
/ proses → kata “pengawasan”
4)
tempat
melakukan pekerjaan → kata “pemandian”
2.16 Konfiks per-an
a.
Bentuk
Konfiks per-an memiliki alomorf
1)
per-an,
→ persatuan
2)
pe-an,
→ pekerjaan
3)
pel-an,
→ pelajaran
b.
Fungsi
membentuk nomina per-an yang diturunkan
dari
1)
verba
ber-, → bersatu menjadi persatuan
2)
verba
me-, → melawan menjadi perlawanan
3)
verba
memper-, → memperluas menjadi perluasan
4)
verba
memper-i, → memperbaiki menjadi perbaikan
5)
verba
memper-kan, → mempertahankan menjadi pertahanan
c.
Makna
1)
‘hal
. . .’ → kata “persatuan”
2)
‘hasil
perbuatan’ → kata “perjuangan”
3)
‘tempat
ber-‘ → kata “perguruan”
4)
‘wilayah
/ daerah / kawasan’ → kata “pegunungan”
2.17 Konfiks ke-an
a.
Bentuk
Konfiks ke-an tidak pernah
mengalami perubahan bentuk jika digabungkan dengan bentuk dasar apa pun.
Contoh :
bentuk kata kabupaten (kebupatian),
keputren (keputrian), dan keraton (keratuan) diadopsi dari bahasa
Jawa.
b.
Fungsi
Berfungsi membentuk nomina. nomina ke-an
tidak diturunkan dari verba sumber, tetapi bergabung langsung dengan bentuk
dasar.
1)
verba
dasar, → kedudukan
2)
nomina, → kemanusiaan
3)
adjektiva, → kesehatan
4)
numeralia,
→ kesatuan
5)
adverbia,
→ kesudahan
6)
pronomin,
→ keakuan
Jika dilihat dari bentuknya, dasar yang
digabungi konfiks ke-an dapat berupa kata jadian berawalan 1)
me-[kemerataan], 2) ber-[kebersamaan], 3) ter-[keterlambatan], 4)
se-[kesejajaran], 5) pe-[kependidikan], 6) kata ulang[kekanak- kanakan], 7)
majemuk[ketatabahasaan], dan 8) frasa [kurang mampu - kekurangmampuan].
c.
Makna
1)
‘hal
/ keadaan ’ → kata “kebersihan”
2)
‘tempat
/ daerah / wilayah’ → kata “kedutaan”
3)
‘yang
di-‘ → kata “kesayangan”
4)
‘kumpulan’ → kata “kepulauan”
2.18
Akhiran -an
a. Bentuk
Akhiran -an tidak pernah
mengalami perubahan bentuk baik digabungkan dengan bentuk dasar yang berakhiran
konsonan maupun vokal.
Contoh :
awalan, akhiran, imbauan, buaian,
buruan, dan harian
b. Fungsi
Berfungsi membentuk nomina. nomina berakhiran
-an tidak diturunkan dari verba 1) ber- [berlabuh - labuhan], 2) verba me-
[menggambar - gambaran], 3) verba me-kan [mengajarkan - ajaran].
c. Makna
1)
‘hasil
me-’ → kata “karangan / tulisan”
2)
‘cara
me-‘ → kata “didikan / asuhan”
3)
‘yang
di-‘ → kata “makanan / minuman”
4)
‘tempat
/ lokasi’ → kata “belokan”
5)
‘alat
untuk me-‘ → kata “garisan”
6)
‘tiap
- tiap (mengacu pada waktu yang berkala)’ → kata “mingguan / bulanan”
7)
‘beberapa’
→ kata “ribuan”
8)
‘berbagai’
→ kata “sayuran”
9)
‘kumpulan’
→ kata “daratan”
10) ‘sekitar’ → kata “60 - an “
11) ‘tingkat lebih’ → kata “tinggian”
2.19 Akhiran -man, -wan, dan -wati
(Sansekerta)
a. Bentuk
Bentuk ketiga akhiran itu bergantung
pada fonem akhir bentuk dasar yang digabunginya.
Contoh :
seniman, budiman, seniwati
sastrawan, ilmuwan, tokowan,
rohaniwan
b. Fungsi
Berfungsi membentuk nomina. Bentuk dasar
yang digabungi berkategori nomina dan juga adjektiva. Dari ketiga akhiran itu
akhiran -wan tampak produktif, sedangkan akhiran -man dan -wati
tidak produktif.
c. Makna
1)
‘orang
yang suka ...’ → kata “dermawan”
2)
‘orang
yang memiliki ...’ → kata “hartawan”
3)
‘orang
yang ahli di bidang ...‘ → kata “sastrawan”
4)
‘orang
yang berprofesi di bidang ...’ → kata “usahawan”
2.20 Akhiran at/-in, -i/-wi, dan iah
(arab)
Dalam Bahasa Indonesia ada sekelompok
nomina berakhiran -at/-in.
Contoh : muslim → muslimat →
muslimin [perbedaan jenis kelamin]
Dalam Bahasa Indonesia ada bentuk yang
perbedaannya hanya terletak pada alternatif antara fonem /a/ (pria) dan
/i/ pada wanita.
Contoh : dewa → dewi
mahasiswa → mahasiswi
Akhiran -iah berfungsi membentuk
adjektiva dari nomina
Contoh : alam (nomina) → alamiah
(adjektiva)
2.21 Akhiran -isasi
Akhiran -isasi merupakan
penyesuaian dari akhiran -isatie (Belanda) atau -ization (Inggris) juga
diserap ke dalam bahasa Indonesia bersama - sama dengan bentuk dasarnya secara
utuh.
Contoh :
|
Belanda
|
Inggris
|
Indonesia
|
|
legalisatie
|
legalization
|
legalisasi
|
|
liberalisatie
|
liberalization
|
liberalisasi
|
|
modernisatie
|
modernization
|
modernisasi
|
|
normalisatie
|
normalization
|
normalisasi
|
|
specialisatie
|
specialization
|
specialisasi
|
2.22 Akhiran –tas /- itas
Akhiran –tas / itas merupakan
penyesuaian dari akhiran –ty/-ity (Inggris.) Akhiran –tas/-itas diserap
bersama – sama dengan bentuk dasarnya secara utuh.
Contoh : activity (Inggris) → aktivitas
(Indonesia)
2.23 Akhiran -isme
Akhiran –isme merupakan
penyesuaian dari akhiran –isme (Belanda) atau –ism (Inggris).
Contoh : egoisme (Belanda) → egoism
(Inggris) → egoisme (Indonesia)
2.24 Akhiran –is
Akhiran –is merupakan penyesuaian
dari akhiran –isch (Belanda) atau –ical (Inggris).
Contoh : logisch (Belanda) → logical
(Inggris) → logis (Indonesia)
2.23 Akhiran -al
Akhiran –al merupakan penyesuaian
dari akhiran –eal / aal(Belanda) atau –al (Inggris).
BAB
III
KATA
ULANG
A.
Kata Ulang
Kata
ulang adalah kata jadian yang terjadi dalam pengulangan bentuk dasr. Bentuk
dasar yang diulang dapat berupa (1) kata dasar. dan dapat juga berupa (2) kata jadian. Katagori kata yang dapat diulang
adalah (1) verba (2) nomina (3) adjectiva, (4) adverbia (5) numeralia, dan (6)
pronomina.
Perhatika contoh
pengulangan berikut!
|
Dasar
|
Kata dasar
|
Kata jadian
|
|
(1) Verba
|
Duduk-duduk
|
Berlari-lari
|
|
(2) Nomina
|
Ibu-ibu
|
Pengajar-pengajar
|
|
(3) Adjectiva
|
Sehat-sehat
|
Sakit-sakitan
|
|
(4) Adverbia
|
Lebih-lebih
|
Habis-habisan
|
|
(5) Numeralia
|
Satu-satu
|
Kedua0duanya
|
|
(6) Pronomina
|
Apa-apa
|
Apa-apaan (cak)
|
(cak = bahasa percakapan)
3.1 Bentuk Kata Ulang
Menurut bentuknya, kata ulang dapat dibedakan empat
macam, yakni (1) kata ulang utuh (2) kata ulang sebagian (3) kata ulang salin
suara (4) kata ulang berimbuhan.
3.1.1
Kata Ulang Utuh
Kata ulang utuh adalah kata ulang yang dibentuk dengan
mengulang b entuk dasar secara utuh.
|
Bentuk Dasar
|
Kata Ulang Utuh
|
|
Ibu
|
Ibu-ibu
|
|
Bapak
|
Bapak-bapak
|
Kata majemuk setara, seperti ibu bapak, suami istri, anak
cucu. Dan sawah lading diulang secara utuh.
Cobalah perhatikan
perbedaan bentuk ulang I dan II berikut!
|
I
|
II
|
|
|
|
|
Ibu bapak – ibu bapak
|
Ibu-ibu, bapak-bapak
|
|
Suami istri – suami istri
|
Suami-suami, istri-istri
|
|
Anak cucu – anak cucu
|
Anak-anak, cucu-cucu
|
|
Sawah lading –sawah ladang
|
Sawah-sawah, lading-ladang
|
|
ii.
bentuk ulang yang lazim
digunakan adalah bentuk ulang II karena
terasa lancer dan praktis bentuk ulang
II dapat diungkapkan dengan kata para.
iii.
para ibu dan bapak yang kami
hormati!
Kalimat iii. Diatas terasa lebih halus/sopan daripada
kalimat ii. (bukan para ibu-ibu dan para bapak-bapak).
3.1.2
Kata Ulang Sebagian
Kata
ulang sebagian adalah kata ulang yang dibentuk dengan mengulang bentuk dasar
secara sebagian.
Contoh
:
|
|
Bentuk
dasar
|
Kata
Ulang Sebagian
|
|
i
|
Jaka
|
Jejaka
|
|
ii
|
Memukul
|
Memukul-mukul
|
|
iii
|
Menolong
|
Tolomg-menolong
|
|
iv
|
Sayuran
|
Sayur-sayuran
|
|
V
|
Bersalaman
|
Bersalam-salaman
|
|
Vi
|
Keibuan
|
Keibu-ibuan
|
|
|
|
|
Bentuk
kata ulang contoh i. disebut dwipurna, yakni perulangan (sebagian) suku awal
bentuk dasar (ulang awal suku kata) unsur ulang bentuk dasar (ulang awal suku
kata) unsur ulang suku awal bentuk dasar berakhir dengan vocal (e terbalik).
Bentuk ulang contoh ii. Disebut kata ulang porgesif (arah kanan) sedangkan kata
ulang contoh iii. Disebut kata ulang regresif (arah kiri) bentuk ulang contoh
iv., v., dan vi., disebut kata ulang progesif.
Contoh
kalimat :
i.
kita
wajib menghormati nilai-nilai luhur para leluhur kita yang telah
mewariskan keluhurannya kepada kita.
ii.
Karena
marah, dia memukul-mukul meja
iii.
Kedua
anak yang berkelahi itu pukul-memukul dan tending-menendang
iv.
Dipasar
sayur dan buah dijual sayur-sayuran dan
buah-buahan
v.
Selesai
melaksanakan sholat idhul fitri, mereka bersalam-salaman dan bermaaf-maafan
vi.
Bu
Tuti seorang ibu muda, tetapi telah menampakkan keibuannya terhadap anak
pertamanya . Bu rini adalah guru TK yang keibu-ibuan terhadap murid-muridnya
3.1.3
Kata Ulang Salin Suara
Kata ulang salin suara adalah kata ulang utuh denagn
variasi vokal atau konsonan padabbentuk dasar. Perhatikan
contoh berikut:
|
Unsur
Ulang
|
Bentuk
Dasar
|
Unsur
Ulang
|
Arah
|
|
i. Corat -
Mocat -
Kedap -
Cengengas -
Gembar -
Desas -
ii.
|
Coret
Macet
Kedip
Cengenges
Gembor
Desus
Warna
-
Serba
-
Teka
-
Basa
-
Gerak
-
|
Warni
Serbi
Teki
Basi
Gerik
|
Kekiri
(regresif)
Ke kanan
(Progresif)
|
Sementara itu, dalam Bahasa Indinesia terdapat kata ulang
salin suara yang tidak di kenali lagi bentuk dasarnya (sudah menjadi bentuk beku) , yakni bentuk kata yang
memiliki pasangan tertentu/tetap (teradat).
Contoh :
iii. Compang – Camping
Mondar - Mandir
Selanjutnya, marilah
kita perhatikan kata ulang salin suara dengan perubahan konsonan berikut ini.
|
Bentuk
Dasar
|
Unsur
Ulang
|
Perubahan
|
|
Sayur -
Lauk -
Beras -
Cerai -
Corang
|
Mayur
Pauk
Petas
Berai
Moreng
|
S
L
B
C
C
|
Pada contoh diatas
tampak bahwa bentuk dasarnya selalu terletak pada posisi pertama, sedangkan
unsure ulangnya pada posisi kedua (Progresif). Tidak seperti kata ulang salin
suara contoh (180), perubahan konsonan itu tidak dapat di tentukan, mengapa
konsonan /s/ berubah menjadi /m/, konsonan /l/ menjadi /p/, dan sebagainya.
Unsur ulang mayor,pauk,petas,berai dan moreng pada
kata ulang salin suara itu merupakan unsure
unik, yakni satuan morfemik yang hanya khusus berdaya gabung dengan unsur
inti (dasar) tertentu atau dengan unsur unikcontuh (181).
Perlu juga di ketahui
bahwa baik pada kata ulang salin suara dengan perubahan vokal maupun dengan
perubahan konsonan, fonem pada bentuk
dasar dan unsur ulangnya sama banyaknya.
Contoh :
Corat (5)
-Coret (5)
Gembar (6) –
Gembor (6)
3.1.4 Kata Ulang Berimbuhan
Kata ulang berimbuhan adalah kata
ulang yang disertai pengimbuhan dengan (i) awalan ber-(ii) konfiks ber-an (iii)
awalan me -, (iv) gabungan me-i(v) gabungan me-kan(vi) konfiks ke-an, dan (vii)
akhiran –an
Contoh
:
Bentuk dasar Kata Ulang Berimbuhan
|
(ia)
|
Bercakap
|
-
|
Bercakap
– cakap
|
|
(ib)
|
Berbondong
|
-
|
Berbondong
- bondong
|
|
(ic)
|
Berpuluh
|
-
|
Bepuluh –
puluh
|
|
(id)
|
Berbulan
|
-
|
Berbulan
– bulan
|
|
(ie)
|
Malas
|
-
|
Bermalas
– malas
|
|
(if)
|
Berjumpa
|
-
|
Berjumpa
– jumpa
|
Bentuk verba ber- seperti contoh
(ib), (ic), dan (id)tidak terdapat dalam pemakaian bahasa Indonesia. Dengan
demikian, bentuk verba ber- tersebut tidak dapat menjadi bentuk dasar
perulangan. Kata ulang contoh (ie) dibentuk secara langsung dari bentuk dasar
disertai awalan ber- (terjadi secara serempak), tidak dibentuk dari dasar verba
ber- pada contoh (if) ada dalam bahasa Indonesia, tetapi tidak dapat ,
mengalami proses pengulangan (bersifat tertutup).
|
(ii)
|
Berdekatan
|
-
|
Berdekat
– Dekatan
|
|
(iia)
|
Berciuman
|
-
|
Bercium –
Ciuman
|
|
(iib)
|
Kasih
|
-
|
Berkasih
– kasihan
|
|
(iic)
|
Berdatangan
|
-
|
Berdatang
- Datangan
|
Kata ulang contoh (ii) dibentuk dari
dasar verba konfiks ber-an. Bentuk ber-an pada contoh (iia) bukan konfiks,
melainkan awalan ber- yang digabungkan dengan bentuk yang sudah berakhiran –an
(ber- + gandengan/ciuman/pelukan) yang kemudian di ulang seperti contoh (ii)
kata ulang contoh (iib) di bentuk langsung dari dasar kata dasar
(kasih/sumpah/teguh) berkonfiks ber- an, tidak di bentuk dari dasar verba ber-
an karena memang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Verba berkonfiks ber-an
pada contoh (iic) ada dalam bahasa Indonesia, tetapi tidak dapat mengalami
proses pengulangan.
Dalam bahasa sehari-hari terdapat
kata ulang cium-ciuman, cinta-cintaan, peluk-pelukan, dan pacar-pacaran yang
seharusnya berawalan ber-. Penghilangan awalan ber- pada kata ulang dia atas
mungkin sekali akibat pengaruh bahasa Jawa.
|
(iii)
|
Memukul
|
-
|
Memukul –
mukul
|
|
(iiia)
|
Memukul
|
-
|
Pukul –
memukul
|
|
(iiib)
|
Memasak
|
-
|
Masak –
memasak
|
Proses
pengulangan pada contoh (iii) dan (iiia) tidak mengubah kategori kata ulang itu dari bentuk dasarnya. Jadi,
baik bentuk dasar maupun kata ulangnya berkategori sama, yakni sama-sama
berkategori verba. Hal ini berbeda dari contoh (iiib) Verba memasak, mengarang,
dan menjahit berubah kategorinya menjadi nomina setelah mengalami pengulangan regresif.
Bandingkanlah kata ulang contoh (iiib) dengan kata ulang progresif memasak
masak, mengarang ngarang dan menjahit jahit!
Perlu
di catat bahwa verba ulang progresif seperti memukul-mukul dapat di pasifkan
menjadi dipukul-pukul, sedangkan verba ulang regresif seperti pukul-memukul
tidak dapat dipasifkan menjadi *pukul-dipukul. Contoh lainnya adalah
tolong-menolong yang tidak dapat dipasifkan menjadi tolong-menolong.
a. i. Karena marahnya dia memukul-mukul
meja itu.
ii.
Karena marahnya itu dipukul-pukulnya.
b. i. Kedua anak itu pukul-memukul
puku-dipukul
Catatan:
Perhatikanlah
perbandinga bentuk kata ulang bahasa Indonesia dan bahasa Jawa berikut ini!
Menolong-nolong =
nulung-nulung
Tolong-menolong =
tulung-tinulung;
? tulung-nulung
Pada contoh diatas tampak bahwa
bentuk verba ulang regresif yang mengandung makna ‘salin …’, dalam bahasa
Indonesia di nyatakan dengan verba ulang aktif tolong-menolong, sedangkan dalam
bahasa Jawa dinyatakan dengan verba ulang pasif –in tulung-tinulung (bukan
pasif di-: *tulung-ditulung).
|
(iv)
|
Mengajari
|
-
|
Mengajar-ajari
|
|
(iva)
|
Mengajari
|
-
|
Ajar-mengajari
|
Contoh
(iv) adalah kata ulang progresif dengan arti ‘berulang-ulang’, sedangkan contoh
(iva) adalah kata ulang regresif dengan arti ‘saling’.
|
(v)
|
Mencarikan
|
-
|
Mencari -
carikan
|
|
(va)
|
Mencarikan
|
-
|
Cari -
Mencaikan
|
Contoh
(v) adalah kata ulang progresif dengan arti ‘beneaktif’, sedangkan contoh (va).
Adalah kata ulang regresif dengan arti ‘saling’.
|
(vi)
|
Keibuan
|
-
|
Keibu-ibuan
|
|
(via)
|
Barat
|
-
|
Kebarat-baratan
|
Kata
ulang contoh (vi) dibentuk dari dasar nomina konfiks ke- an, sedangkan kata
ulang contoh (via) dibentuk secara langsung dari dasar kata dasar dengan
konfiks ke- an, bukan dari dasar nomina konfiks ke- an (*kebaratan/ *kebelandaan/*kearaban).
|
(vii)
|
Tanaman
|
-
|
Tanam-tanaman
|
|
(viia)
|
Buah
|
-
|
Buah-buahan
|
|
(viib)
|
Buah
|
-
|
Bebuahan
|
Kata
ulang contoh (vii) dibentuk dari dasar nomina –an, sedangkan kata ulang contoh
(viia) di bentuk langsung dari dasar kata dasar dengan akhiran –an (dwilingga +
-an). Kata ulang contoh (viib) di bentuk secara langsung dari dasar kata dasar
dengan ulang suku awal (dwipura) di sertai akhiran –an. Bentuk ulang jenis
(viib) (dwipura + -an) bersinonim dengan
bentuk ulang jenis (viia).
Dalam
bahasa Indonesia bentuk dwipura + -an tidak/belum produktif. Beranalogikan
(viib) dapat dimunculkan bentuk dwipura + -an sebagai berikut (reka cipta)
|
Bunga-bungaan
|
-
|
Bebungaan
|
|
Biji-bijian
|
-
|
Bebijian
|
|
Sayur-sayuran
|
-
|
Sesayuran
|
|
Tanam-tanaman
|
-
|
Tetanaman
|
Pemunculan bentuk
dwipura + -an diatas dimaksudkan untuk menciptakan bentuk ulang yang praktis.
Catatan:
Perhatikanlah penggunaan bentuk
dwilingga + -an dan dwipura + -an berikut ini!
(a)
i.
Di tamannya di Tanami
Kata ulang
bunga-bungaan bermakna dua macam, yakni (1) ‘berbagai macam bunga’ dan (2)
‘bunga tiruan’, sedangkan kata ulang
bebungaan ‘berbagai macam bunga’. Dengan makna di atas, pemakaian bunga-bungaan
dan bebuangaan pada kalimat (i) dapat saling menggatikan dengan makna
‘berbagai’ macam bunga’. Pada kalimat (ii) kata ulang bebungaan tidak dapat
digunakan sebab makna bunga-bungaan pada kalimat (ii) adalah ‘bunga tiruan’,
sedangkan bebungaan adalah bunga sungguhan’
Contoh
lain :
3.2 Makna Kata Ulang
(1). ’banyak’
(1). Murid-murid dan
guru-guru itu sedangkan melaksanakan upacara bendera
(2). ‘berbagai jenis’
1. Di pasar sayur dan pasar buah
dijual sayur-sayuran dan buah-buahan.
(3). ‘kemiripan cara’/’peniruan’
1.
Masih ada orang Indonesia yang kebelanda-belandaan
(4). ‘kemiripan rupa’/’tiruan’
1.
Di toko mainan di jual mobil-mobilan,kapal-kapalan
dan kereta api-kereta apian.
Perhatikanlah kalimat berikut.
Anak-anak itu sedang asyik bermain
mobil-mobilan.
Pada kalimat di atas
bermain mobil-mobilan dapat bermakna dua macam, yaitu (1) ‘bermain menirukan
seseorang yang sedang mengendarai mobil’ dan (2) ‘bermain mainan’).
(5). ‘berulang – ulangan /terus – menerus
1. Karena marah, dia memukul-mukul
meja.
(6). ‘saling’/’berbalasan’
1. Kedua anak yang berkelahi itu
pukul-memukul dan tendang-menendang.
BAB
IV
KATA
MAJEMUK
1. Pendahuluan
Menurut sejarah kata – kata majemuk itu
pada mulanya merupakan urutan kata yang bersifat sintaksis. Dalam urutannya
yang bersifat sintaksis tadi, tiap – tiap bentuk mengandung arti yang
sepenuhnya sebagai sebuah kata. Tetapi lamban laun karena sering dipakai,
hubungan sintaksis itu menjadi beku, dan sejalan dengan gerak pembekuan
tersebut, bidang arti yang didukung tiap – tiap bentuk juga lenyap dan
terciptalah bidang arti baru yang didukung bersama.
Dalam proses ini tidak semua urutan itu
telah sampai kepada taraf terakhir. Ada urutan kata yang masih dalam gerak ke
arah pembekuan, ada yang sudah sampai kepada pembekuan itu Yang masih dalam
gerak itu dapat disebabkan karena gabungan itu memang sifatnya sangat longgar
atau karena istilah tersebut baru saja tercipta.
Membahas pemajemukan atau kata majemuk
berarti kita dapat mengetahui kemungkinan yang menjadi struktur elemen pembentuk
kata majemuk tersebut beserta fungsinya masing – masing. Menurut tipe
konstruksinya kata majemuk dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu : kata majemuk
setara dan kata majemuk tidak setara, sedangkan menurut sifatnya, kata majemuk
terbagi atas kata majemuk eksosentris dan endosentris.
2. Pengertian
2.1.Kata majemuk adalah kata jadian yang
terbentuk dari penggabungan dua kata atau lebih menjadi satu kata baru yang
mengandung makna baru (Djoko saryono),
2.2.Pemajemukan adalah proses pembentukan
kata melalui penggabungan dua buah kata
yang menimbulkan suatu kata baru (M. Ramlan, 1995)
2.3.Pemajemukan adalah proses pembentukan
suatu konstruksi melalui penggabungan dua morfem/kata atau lebih (Samsuri,
1978).
2.4.Pemajemukan adalah proses pembentukan
kata melalui penggabungan morfem dasar yang hasil keseluruhannya berstatus
sebagai kata yang mempunyai pola fonologis, gramatikal, dan semantik yang
khusus menurut kaidah bahasa yang bukan pemajemukan (Harimurti kridalaksana,
1982)
3. Unsur
– Unsur kata majemuk
Bentuk
dasar yang digabungkan dapat berupa : 1. Pradasar, dan 2. Kata Dasar.
|
Dasar
Dasar
|
Pradasar
|
Kata
Dasar
|
|
Pradasar
|
(1) +
|
(2) +
|
|
Kata
Dasar
|
(3) +
|
(4) +
|
Proses penggabungan kedua bentuk dasar
tersebut tampak pada bagan berikut :
Dengan
menggabungkan (+) dua jenis bentuk dasar dapat dihasilkan kata majemuk yang
unsur – unsurnya terdiri atas (1) pradasar + pradasar, (2) Pradasar + Kata
dasar, (3) kata dasar + pradasar dan (4) kata dasar +Kata dasar.
|
Kata
Majemuk
|
Kategori
|
|
(1) Cetak ulang
Jual
beli
(2) Cacah jiwa
Jumpa
pers
(3) Ahli pijat
Salah
baca
(4) Jatuh miskin
Jatuh
bangun
Suami
istri
Orang
tua
Panjang
lebar
|
Verba +
verba
Verba +
verba
Verba +
Nomina
Verba +
nomina
Nomina +
Verba
Adjektiva
+ verba
Verba +
adjektiva
Verba +
verba
Nomina +
nomina
Nomina +
adjektiva
Adjektiva
+ adjektiva
|
Kata
majemuk yang dicontohkan di atas, kategori bentuk dasarnya berupa verba
pradasar : jual/beli/jumpa dan kata dasar : bangun/makan/pohon, nomina, dan
adjektiva. Ketiga kategori tersebut dalam proses pembentukan kata majemuk
tampak produktif. Masing-masing bersifat terbuka dan memiliki daya gabung yang
tinggi.
Kategori lainnya, yakni (1) pronomina, (2)
numeralia, (3) adverbia, dan (4) kata tugas dalam proses pembentukan kata
majemuk tampak tidak produktif.
Contoh
:
(1)
Pronomina
Majemuk :
Apabila
(pronomina + pronomina)
Bilamana
(pronomina + pronomina)
Bagaimana
(nomina + pronomina)
Manakala
(pronomina + nomina)
Contoh
kalimat :
a.
i. Apabila
ayahmu berangkat menunaikan ibadah haji?
ii.
Apabila diundangnya, saya berusaha
hadir pada pertemuan itu?
b.
i. Bilamana
kemerdekaan Indonesia diproklamasikan?
ii.
Bilamana senja tiba bapak tani pulang
sambil menggiring kerbaunya.
Pada
contoh a,b dan c, apabila, bilamana, dan bagaimana dapat digunakan sebagai
pronomina penanya dan sebagai konjungsi dalam kalimat majemuk bertingkat. Kata
manakala biasanya memang digunakan dalam kalimat majemuk bertingkat, dan jarang
digunakan dalam kalimat tanya.
(2)
Numeralia
majemuk:
Tiga
belas (numeralia + Numeralia)
Empat
mata (numeralia + nomina)
Limma
waktu (numeralia + nomina)
Tujuh
keliling (numeralia + numeralia)
Contoh
kalimat :
a.
Sungguh
celaka tiga belas, sepeda pinjaman
dicuri orang
b.
Kedua
Presiden itu sedang mengadakan pertemuan empat
mata.
(3)
Adverbia
majemuk :
Amat
sangat (adverbia + adverbia)
Hanya
saja (adverbia + adverbia)
Hampir
selalu (adverbia + adverbia)
Lagi
pula (adverbia + adverbia)
Contoh
kalimat :
a.
Kekalahan
kesebalasan indonesia atas Bahrain 0-10 memang amat sangat memalukan.
b.
Pak
Budi guru yang sangat amat baik lagi pula
jujur dan berdisiplin.
(4)
Kata
tugas majemuk :
Daripada
(preposisi + preposisi)
Oleh
karena (preposisi + konjungsi)
Sampai
dengan (preposisi + preposisi)
Selain
dari (konjungsi + preposisi)
Contoh
kalimat :
a.
Jakarta
memang lebih ramai daripada Surabaya.
b.
Dia
dipilih menjadi Lurah oleh karena
kejujurannya.
4. Ciri
– ciri Kata Majemuk
a. Kedua unsurnya
menunjuk/membentuk / menimbul-kan pengertian baru.
Contoh
: Matahari: gumpalan gas raksasa yang pijar
Satu benda satu pengertian.
Kapal terbang: pesawat yang dapat terbang
Satu benda satu pengertian
b. Hubungan antara kedua
unsurnya sangat erat dan rapat sehingga tidak dapat dipertukarkan atau
bolak-balik.
Contoh:
|
Bentuk majemuk
|
Tidak dapat dijadikan
|
|
Panjang tangan
Laki bini
Mata sapi
Kamar mandi
Tinggi hati
Sapu tangan
Anak angkat
Tanggung jawab
|
Tangan panjang
Bini laki
Sapi mata
Mandi kamar
Hati tinggi
Tangan sapu
Angkat anak
Jawab tanggung
|
Contoh: panjang tangan : suka mencuri
Tangan panjang : tangan yang (memang) panjang
c. Hubungan kedua unsure
sangat rapat dan erat sehingga diantara keduanya tidak dapat disisipi unsure
lain.
Contoh :
-
Mata sapi sebagai bentuk majemuk berbeda pengertiannya
dengan matanya sapi , mata dan sapi, mata dari sapi, dan sebagainya.
-
Meja hijau bukanmeja yang hijau
-
Jago merah bukan jago yang merah
-
Mata kakibukan mata dan kaki
d. Hubungan antara kedua
unsur sangat rapat dan erat sehingga jika diberi afiks harus kena pada seluruh
kata dan tidak boleh disisipkan diantara kedua unsur
Contoh :
-
Dipertanggungjawabkan bukan dipertanggungkan jawab
-
Ibu bapaknya bukan ibunya bapak
5. Macam
– macam kata majemuk.
Berdasarkan
hubungan unsur-unsurnya, kata majemuk dapat dibedakan atas dua macam, yakni 1.
Kata majemuk setara dan 2. Kata majemuk bertingkat. Perbedaan kedua macam kata
majemuk tersebut adalah sebagai berikut :
|
Kata Majemuk
|
|
|
Setara
|
Bertingkat
|
|
(i) Kedua unsurnya memiliki kedudukan yang sama.
(ii) Kedua unsurnya sama – sama merupakan INTI.
|
Kedua unsurnya memiliki kedudukan yang
TIDAK SAMA,
Salah satu unsurnya merupakan INTI,
sedangkan lainnya menjadi PEWATAS.
|
Contoh
:
Setara Bertingkat
Anak
cucu anak
asuh
Ibu
bapak ibu
negara
Dunia
akhirat dunia
anak-anak
Hubungan
SETARA itu menjadi jelas jika kata majemuk itu diparafrasekan sebagai berikut:
Anak
cucu - anak DAN cucu
Ibu
bapak - ibu DAN Bapak
Dunia
akhirat - dunia
DAN akhirat
Hubungan
kedua unsur kata majemuk setara bersifat
koordinatif.
Hubungan bertingkat itu menjadi
jelas jika kata majemuk itu diparafrasekan sebagai berikut :
Anak
asuh - anak yang diasuh
Ibu
negara - ibu bagi negara
Dunia
anak-anak - dunia bagi anak-anak
Hubungan
kedua unsur kata majemuk bertingkat bersifat atributif.
Perlu
dicatat bahwa kata majemuk setara itu kedua unsurnya harus berkategori sama.
Anak
cucu - nomina + nomina
Ibu
bapak - nomina + nomina
Dunia
akhirat - nomina + nomina
Berdasarkan
kategori unsur-unsurnya kata majemuk diatas tergolong nomina majemuk setara.
Adapun
kata majemuk bertingkat itu kedua unsurnya tidak harus berkategori sama. Kedua
unsurnya dapat terdiri atas kategori yang berbeda.
Contoh
:
-
Anak
asuh : nomina + verba
-
Meja
hijau : nomina + adjektiva
-
Jam
bicara : nomina + verba
kedua
unsur kata majemuk itu ada yang bersinonim dan ada yang berantonim.
Cerdik
pandai - ibu bapak
Cinta
kasih - jatuh bangun
Kasih
sayang - maju mundur
Kata
majemuk yang unsur-unsurnya bersinonim dan berantonim ini berpola urutan tetap.
Berdasarkan
acuannya kata majemuk dibedakan menjadi 2 yaitu :
1.
Kata
majemuk wajar/lugas.
Adalah
kata majemuk yang bermakna sebenarnya yang sesuai dengan benda atau hal yang
diacunya.
2.
Kata
majemuk kiasan.
Adalah
kata majemuk yang bermakna tidak sebenarnya yang tidak sesuai dengan benda atau
hal yang diacunya.
Contoh
:
|
Kata Majemuk Wajar
|
Kata Majemuk Kiasan
|
|
Bulan puasa
Besar kecil
Bunga delima
|
Bulan madu
Besar mulut
Bunga bangsa
|
Kata
majemuk bermakna kiasan tergolong kata majemuk idiomatis.
Idiom
dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
1.
Idiom
penuh
Idiom
yang maknanya benar-benar sudah menyatu, tidak dapat dijabarkan dari makna
unsur pembentuknya.
2.
Idiom
sebagian
Idiom
yang memiliki unsur yang bermakna biasa dan khusus.
Kata majemuk dapat dibedakan menjadi tiga macam
berdasarkan unsurnya
a.
Kata
majemuk asli
b.
Kata
majemuk serapan
-
Kata
majemuk serapan dari bahasa jawa
Contoh
: adigang, adigung, adiguna
Maksudnya
adalah menjelaskan sifat yang memperlihatkan
kekuasaan,kekuatan,keluhuran,keturunan,kebangsawanan,dan kepandaiannya.
c.
Kata
Majemuk hibrida.
6. Makna
kata Majemuk
Unsur
kata majemuk memiliki hubngan makna tertentu.
Contoh
:
(1)
Unsur
I dan II ‘bersinonim’
Cantik
molek - kasih sayang
Cerdik
cendekia - muda belia
Fakir
miskin - pahit getir
Cinta
kasih - nur cahaya
Urutan
unsur I dan II bersifat tetap, tidak dapat diubah.
(2)
Unsur
I dan II berantonim
Antar
jemput - atas bawah
Jatuh
bangun - besar kecil
Jual
beli - jauh dekat
Contoh
kata majemuk berantonim tersebut diatas merupakan bentuk beku, urutannya tidak
dapat diubah, misalnya antar jemput diubah menjadi jemput antar.
#
Dalam bahasa indonesia dikenal dengan hukum DM, yakni kaidah tentang unsur-unsur
dalam bahasa indonesia, baik dalam kata majemuk,frasa,maupun kalimat, segala
sesuatu menerangkan M selalu terletak dibelakang yang diterangkan D.
#
Hukum DM tidak dapat diterapkan pada kata majemuk setara sebab kedua unsur itu
masing-masing merupakan inti.
#
dalam bahasa indonesia ada konstruksi morfologis yang berupa proleksem +
nomina/adjektiva/verba.
Contoh
: adibusana pancasila
Antarbangsa pariwara
Antiperang pascabedah
Konstruksi
morfologis yang gabungan antara bentuk terikat proleksem dan bentuk bebas
nomina/adjektiva/verba diatas digolongkan kata majemuk meskipun tidak berupa
gabungan kata dan kata. Tipe kata majemuk diatas berurutan MD.
Contoh
:
Bumiputra
: negeri anak - anak negeri,
penduduk asli
Negeri berkedudukan sebagai M dan anak berkedudukan
sebagai D.
#
kata majemuk hibrida juga berurutan MD
Contoh
: tunaaksara = tidak dapat membaca
dan menulis, buta huruf
#
kata majemuk idiomatis terdiri atas unsur verba/adjektiva + nomina
Contoh
: naik darah = menjadi
marah
Besar kepala = sombong
Kata
majemuk idiomatis diatas benar-benar sudah berpadu dan dan memunculkan makna
baru.
Rumusnya
sebagai berikut : A + B = C (bukan AB)
Kata
majemuk idiomatis tidak berurutan DM ataupun MD, sedangkan kata majemuk
sebagian beurutan MD
Contoh
: naik pangkat/derajat = pangkat atau derajatnya menjadi lebih
tinggi.