A.
LATAR BELKANG
Kasus bank BRI merupakan contoh konkrit yang amat penting untuk diketahui
agar kemudian dapat menjadi suatu acuan bagi kita untuk bisa memahami dan
mendalami pengetahuan mengenai kondisi kesehatan suatu bank.
Pada hakikatnya bank dikatakan sehat
apablila mampu melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu
memenuhi segala kewajibannya dengan baik dengan cara – cara yang sesuai
peraturan perbankan yang berlaku.
Bank dikatakan sehat apabila bisa bisa
melakukan dengan baik kegiatan operasional perbankannya meliputi :
1.
Kemampuan menghimpun dana baik dari masyarakat, lembaga lain, maupun dari modal
sendiri
2.
Kemampuan mengolah dana
3.
Kemampuan untuk menyalurkan dana ke masyarakat
4.
Kemampuan memenuhi kewajiban kepada masyarakat, karyawan, pemilik modal, dan
pihak lain
5.
Pemenuhan peraturan perbankan yang berlaku.
Apabila ada dari kegiatan operasional
di atas tidak dapat dilaksanakan oleh bank, maka dengan demikian suatu bank
bisa dikatakan “ sakit (tidak sehat) “.
Menurut Kasmir Sendiri kesehatan suatu
bank dapat dianalisis dengan menilai aspek CAMELS ( capital,assets, management,
earning, liquidity, dan sensitivity.
· Aspek permodalan (
Capital )
Dalam
hal ini yang dinilai adalah permodalan yang di dasarkan kepada kewajiban
penyediaan modal minimum bank.
· Aspek kualitas Aset
(assets )
Yaitu
menilai jenis-jenis asset yang dimiliki oleh bank.
· Aspek kualitas
menejemen (Management )
Kualitas
manajemen dapat di lihat dari kualitas manusianya dalam bekerja
· Aspek earning
Suatu
bank dapat dikatakan likuid apabila bank yang bersangkutan dapat membayar semua
hutangnya.
· Aspek likuiditas
(liquidity)
Merupakan
ukuran kemampuan bank dalam meningkatkan labanya.
· Aspek Sensitivitas (
sensitivity )
Perbankan
harus sensitive terhadap resiko, ini penting untuk tujuan memperoleh laba dan
pada akhirnya kesehatan bank dapat terjamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar